Temuan Varian Baru Virus Covid-19, Vaksinasi Perlu Dipercepat

- Kamis, 18 Maret 2021 | 12:15 WIB
Istimewa
Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com – Saat ini vaksin COVID-19 sebanyak 40 juta dosis sudah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis  maupun bahan baku (bulk). Diharapkan vaksinasi COVID-19 berjalan lancar. Terlebih fasilitas dan akses vaksinasi makin bertambah banyak, seperti bertambahnya lokasi vaksinasi, dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan usaha swasta.

Made Cock Wirawan, dokter umum yang berpraktek di RS Angkatan Darat Denpasar,  Kamis, mengatakan bahwa vaksinasi yang sudah dilakukan pemerintah sudah berjalan baik. Tenaga vaksinator juga jauh dari mencukupi, karena ada ribuan tenaga kesehatan yang diperbantukan dari TNI dan Polri.

Namun Made menilai vaksinasi ini masih jauh dari harapan, karena jumlah vaksin yang sudah digunakan masih terbatas. Begitu pula proses vaksinasi yang relatif lambat bila dibandingkan dengan besaran sasaran yang ingin dicapai dan kecepatan yang diharapkan. Ia melihat pada waktu vaksinasi tahap pertama, sempat terhambat, tetapi sekarang sudah lancar.

Ia menekankan perlunya percepatan vaksinasi.“Karena lama kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin ini belum diketahui, maka dibutuhkan kecepatan proses pencapaian herd immunity,”  ucap dokter yang terkenal dengan akun twitter @blogdokter yang memiliki 1,8 juta pengikut.

Ia meminta temuan varian baru virus COVID-19, seperti varian B1.1.7,  mempengaruhi percepatan vaksinasi. “Sebab dari beberapa penelitian dan pendapat ahli, vaksin yang saat ini dipakai masih bisa digunakan untuk (mencegah) varian baru COVID-19. (Jadi) Belum dperlukan penghentian vaksinasi,” sambung Made, yang pernah bekerja sebagai dokter umum di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: Percepatan Vaksinasi Covid-19, Masih Banyak Warga yang Malas

Baca Juga: Dukung Vaksinasi Covid-19 Nasional dengan Tidak Sebarkan Hoaks

Baca Juga: Informasi Keberhasilan Vaksinasi Dorong Terciptanya Kekebalan Kelompok

Sedangkan mengenai vaksin AstraZeneca, Made memandang perlu dilakukan review ulang terhadap studi klinis yang dilakukan AstraZeneca. “Langkah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang melakukan review pemakaian vaksin AstraZeneca sudah benar,” katanya. Namun ia mengaku bahwa WHO dan AstraZeneca sudah memberikan penjelasan tentang kasus-kasus yang terjadi.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Budaya Hidup Sehat, Ini Tips Cegah Gigi Berlubang

Minggu, 28 November 2021 | 18:39 WIB

Ini Manfaat Lumut Laut untuk Kesehatan dan Kecantikan

Kamis, 25 November 2021 | 23:16 WIB

6 Minuman Ini Bersihkan Ginjalmu

Kamis, 25 November 2021 | 20:55 WIB
X