Sebelum Vaksinasi, Lansia dengan Komorbid Dianjurkan Konsultasi ke Dokter

Ant
- Senin, 22 Februari 2021 | 17:57 WIB
Foto dokumentasi
Foto dokumentasi

JAKARTA, suaramerdeka.com - Para lansia sangat dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi. Demikian diungkapkan pengamat kesehatan lulusan Universitas Gadjah Mada sekaligus relawan COVID-19, dr. Muhamad Fajri . Hal ini menjadi sangat penting, apalagi bila lansia tersebut utamanya mereka memiliki penyakit komorbid atau penyerta.

"Kita menghindari reaksi yang kita tidak tahu. Pada orang-orang di Norwegia, lansia yang rapuh meninggal. (Terkait ini) Pemerintah (Indonesia) sudah berhati-hati betul. (Lansia) kalau kena komorbid, konsultasikan dulu ke dokter," tulisnya di akun Instagram, dilansir dari Antara.

Terkait pelaksanaan vaksinasi, Kementerian Kesehatan menyediakan dua pilihan mekanisme pendaftaran yakni di fasilitas kesehatan masyarakat baik di Puskesmas maupun rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

Baca Juga: Kiai Sepuh Jangan Ragu Divaksin, Ini Pesan PBNU

Lansia dapat mendaftar dengan mengunjungi website Kementerian Kesehatan yaitu www.kemkes.go.id dan website Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di covid19.go.id.

Di kedua website tersebut akan tersedia link atau tautan yang dapat diklik oleh sasaran vaksinasi masyarakat lanjut usia. Di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan yang harus diisi.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Kelompok Komorbid, Begini Ketentuannya

Dalam mengisi data tersebut peserta lanjut usia dapat meminta bantuan anggota keluarga lain atau melalui kepala RT atau RW setempat.

"Jadi proses pendaftaran ini sasaran vaksinasi bisa dibantu oleh keluarga ataupun RT atau RW setempat," ujar Juru bicara Vaksinasi COVID-19, dr. Siti Nadia Tarmizi.

Baca Juga: Dikritik Vaksinasi Lansia, Begini Jawaban Tegas Wiku

Selanjutnya Dinas Kesehatan akan menentukan jadwal dan termasuk hari, waktu, serta lokasi pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat lanjut usia.

Pilihan kedua, mekanisme melalui vaksinasi massal yang dapat diselenggarakan oleh organisasi atau institusi yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan seperti organisasi untuk para pensiunan ASN, Pepabri atau Veteran Republik Indonesia.

Fajri mengatakan, vaksin Sinovac atau vaksin COVID-19 lainnya tidak akan menyebabkan sakit COVID-19. Kalaupun seseorang dinyatakan positif pasca vaksinasi, maka bisa jadi ada penularan di wilayah orang itu tinggal atau berdiam atau sebelumnya dia sudah terkena COVID-19.

"Ketika kuman masuk ke dalam tubuh tidak langsung membuat sakit tetapi butuh waktu 2-14 hari. Misalnya saya 10 Februari disuntik, seminggu kemudian saya sakit COVID-19, apa karena vaksin? Tidak. Dia sudah tertular sakit COVID-19 akhir Januari sampai awal Februari," kata dia.

 

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Osteoporosis Turunkan Produktivitas Perempuan

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:08 WIB

Ini Kebiasaan yang Menyebabkan Otak Menjadi Lambat

Selasa, 7 Desember 2021 | 07:02 WIB

Tujuh Obat Alami Ini Ampuh Atasi Sariawan

Minggu, 5 Desember 2021 | 23:24 WIB

Ini Dia Manfaat Buah Nangka bagi Kesehatan

Sabtu, 4 Desember 2021 | 23:24 WIB
X