Potensi Obesitas Anak di Masa Pandemi

- Kamis, 23 Juli 2020 | 15:19 WIB
Foto suaramerdeka.com/dok
Foto suaramerdeka.com/dok

OBESITAS merupakan masalah gizi yang dialami hampir semua orang di penjuru dunia. Obesitas tergolong dalam tiga hal, yakni kegagalan gizi (malnutrisi) selain stunting dan penyakit kronis. Terjadinya kegemukan (obesitas) disebabkan karena adanya konsumsi (asupan) kalori berlebih dan tapi tidak dibarengi aktivitas fisik.

Sebetulnya kebutuhan kalori masing-masing orang berbeda, untuk anak-anak yang berada pada masa pertumbuhan, membutuhkan kalori yang lebih banyak dari pada orang dewasa atau lansia. Selain usia, faktor lain yang menyebabkan perbedaan asupan kalori adalah jenis kelamin, aktivitas fisik (atlit atau bukan), status kesehatan (sehat ataukah menderita sakit tertentu), dan lain-lain.

Pada umumnya, laki-laki akan membutuhkan kalori lebih besar dari pada perempuan. Orang yang sakit juga butuh kalori lebih banyak dari pada orang yang sehat. Aktivitas sehari-hari seperti membersihkan rumah, bekerja atau sekolah, dan mengerjakan pekerjaan rumah lain termasuk dalam kategori pekerjaan ringan. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan membutuhkan kalori dalam jumlah normal. Sedang seseorang yang mempunyai pekerjaan berat, membutuhkan kalori yang lebih banyak.

Lain halnya dengan orang dewasa, anak-anak mempunyai kebutuhan kalori yang lebih banyak dan cenderung tidak boleh dibatasi karena mereka masih dalam pertumbuhan. Anak usia sekolah dasar (7-12 tahun) membutuhkan kalori antara 1850 hingga 2100 kkal, sedang anak usia remaja membutuhkan kalori yang lebih besar, yaitu antara 2475 hingga 2665 kkal.

Masa pandemi covid 19 menuntut banyak orang untuk melakukan aktivitas di dalam rumah. Mulai dari bekerja, belajar, olah raga atau pun hanya untuk sekedar mencari kesenangan (hiburan). Adanya kebijakan ini membuat banyak orang menjadi lebih banyak di rumah dari pada beraktivitas di luar. Padahal aktivitas di luar pada umumnya akan membakar lebih banyak kalori dari pada aktivitas di rumah. Bahkan beberapa fasilitas umum untuk olah raga juga mulai ditutup sejalan dengan wabah Covid 19, seperti kolam renang, gym, lapangan sepakbola, voli, dan badminton juga mulai ditiadakan sejak pandemi.

Kejadian ini akan memicu terjadinya obesitas pada anak. Anak usia sekolah dasar yang biasanya melakukan aktivitas di sekolah atau di luar, dituntut untuk berada di dalam rumah. Orang tua yang biasanya bekerja di kantor, juga menjadi lebih sering di rumah. Anak yang biasanya jajan di sekolah, menjadi lebih sering makan masakan ibu. Warung-warung atau restoran juga mulai menutup usahanya karena banyak orang yang tidak mau mengambil resiko tertular corona hanya karena jajan atau makan di luar. Fasilitas-fasilitas umum mulai jarang dikunjungi.

Dengan bertemunya anak dan ibu hampir setiap hari di rumah, ada kebiasaan baru yang dialami hampir semua ibu, yaitu memasak di rumah. Bahkan makin banyak orang tua yang mengeluhkan makin banyaknya pengeluaran untuk makan karena semua orang di rumah. Masak nasi yang biasanya dilakukan sehari sekali, menjadi sehari masak 2-3 kali. Jajanan yang biasanya harus beli dan kurang tersedia di rumah, menjadi tersedia di rumah setiap hari. Kejadian kejadian ini memicu terjadinya obesitas pada anak usia sekolah. Pemicu utamanya adalah makan yang melebihi kebutuhan kalori dan kurangnya aktivitas fisik.

Data dari Riset Dasar Kementrian Kesehatan RI menyatakan, prevalensi obesitas pada anak usia sekolah mengalami kenaikan 2x lipat. Riset yang dilakukan setiap 5 tahun sekali ini memperlihatkan bahwa prevalensi obesitas anak meningkat setiap tahunnya. Obesitas pada anak dapat memicu munculnya penyakit degeneratif pada saat mereka beranjak dewasa. Kebiasaan makan dengan jumlah berlebih memicu terjadinya obesitas.

Salah satu hal sepele yang mungkin sering dilupakan oleh sebagian besar orang adalah minuman manis dengan tambahan gula di dalamnya, misalnya es teh. Perbedaan mencolok dari es teh dengan teh panas adalah jumlah gula yang ditambahkan. Untuk membuat es teh, biasanya penjual menambah 3 sdm gula pasir, sedang membuat teh panas, cukup menggunakan 1 sdm gula pasir. Beberapa orang mungkin mengkonsumsi es teh sehari bisa 2-3 gelas, di mana jumlah gula yang ditambahkan sekitar 72 g atau setara dengan 288 kalori. Jumlah kalori itu setara dengan makan siang porsi sedang. Silahkan dihitung lagi jika sehari mengkonsumsi minuman lebih dari 3 kali, dan tanpa disadari kita telah mengkonsumsi kalori dalam jumlah yang berlebih hanya karena minum. Untuk itu, minum air putih selalu lebih baik dari pada minuman manis yang lain sehingga jumlah kalori kita akan lebih terkendali.

Peneliti dari The Bogalusa Heart (USA) mengemukakan, obesitas dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit aterosklerosis pada anak muda. Menurut data Riskesdas (Kemenkes 2013) 11 propinsi yang mempunyai prevalensi tinggi terhadap terjadinya obesitas adalah Sulawesi Tenggara, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Lampung, DI Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Riau, Sumatra Utara, dan Kepulauan Riau.

Bagaimana dengan data tahun 2020? Sudah dapat diprediksikan bahwa jumlahnya akan semakin meningkat. Lalu hal apa yang dapat dilakukan orang tua? Dengan diperpanjangnya status darurat Covid 19 dan kebijakan New Normal atau sekarang disebut dengan fase pembiasaan baru, orang tua masih mempunyai kendali terhadap makanan yang dikonsumsi anak. Kebijakan ini akan membatasi kebiasaan anak makan di luar, makan bareng atau berkumpul dengan teman-temannya.

Saat ini Kementerian Kesehatan RI juga sedang melakukan gerakan masyarakat (Germas) berupa “isi piringku”. Kebijakan ini dikeluarkan untuk menggantikan piramida makanan. Isi piringku mengatur komposisi makanan beberapa golongan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Konsep yang dibawa adalah gizi seimbang, bukan gizi cukup. Yang dimaksud dengan seimbang adalah seimbang dalam hal jumlah, seimbang dalam hal jenis, dan juga sesuai kebutuhan. Makanan dikatakan seimbang jika mengandung unsur gizi makro dan gizi mikro. Gizi makro sendiri dapat dijabarkan sebagai karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, dan serat sedangkan gizi mikro diantaranya adalah vitamin, mineral, dan komponen gizi lain.

Pada praktiknya, gizi seimbang harus diterapkan di dalam rumah tangga supaya upaya pemerintah dalam menekan obesitas juga berhasil. Ada pun hal yang bisa dilakukan para orang tua adalah dengan membatasi frekuensi makan hanya sebanyak 3x sehari, makanan bervariasi (minimal sehari mengandung 5 unsur warna), tidak jajan atau makan di luar kecuali dengan perencanaan, dan olahraga yang cukup.

Isi piringku sendiri bagi anak-anak usia sekolah dasar terdiri dari ½ bagian piring merupakan buah dan sayur, ¼ bagian berisi lauk (kombinasi hewani dan nabati dalam sehari), dan ¼ bagian terakhir adalah sumber karbohidrat. Sumber protein yang digunakan sebaiknya divariasi dalam satu hari, meliputi hewani dan nabati. Konsumsi lauk tidak melulu harus dalam bentuk tahu atau tempe, bisa juga mengemas kacang-kacangan dalam bentuk “peyek”, bumbu pecel/gado-gado, ataupun dalam sayuran seperti sup kacang merah. Anak juga sebaiknya dikenalkan pada bahan makanan yang bervariasi sejak dini. Konsep gizi seimbang tidak hanya mampu mencegah anak dari obesitas, namun juga dapat mencegah anak dari stunting. Dua dari 3 masalah gizi yang terjadi di dunia.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Mengenal Enam Manfaat Daun Binahong untuk Kesehatan

Rabu, 20 Oktober 2021 | 08:12 WIB

Waspadai 7 Sayuran Ini, Bisa jadi Pemicu Asam Urat

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:21 WIB

Ini Lima Fakta Seputar Mata Minus

Selasa, 19 Oktober 2021 | 07:36 WIB

Berikut Manfaat Buah Gayam untuk Kesehatan

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:55 WIB

Ini Manfaat Getah Angsana untuk Kesehatan

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:12 WIB

Ini Dia Manfaat Probiotik bagi Usus

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:49 WIB

Ini 5 Manfaat Acai Berry, Buah Khas dari Negara Brazil

Minggu, 17 Oktober 2021 | 16:35 WIB

Ini Lima Manfaat Jambu Biji untuk Kesehatan Anak

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 23:01 WIB

Inilah Lima Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan Tubuh

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 22:45 WIB
X