Polusi Udara Musim Kemarau Picu Kanker Paru

- Kamis, 23 Juli 2020 | 14:47 WIB
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Muslimah saat melakukan gowes, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Pamungkas Ashadi)
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Muslimah saat melakukan gowes, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Pamungkas Ashadi)

MEMASUKI musim kemarau ini, masyarakat perlu mewaspadai segala macam penyakit yang ditimbulkan. Hasil kajian dari Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Muslimah, S.Si, MM, Apt menyebutkan, polusi udara yang meningkat di musim kemarau dapat memicu terjadinya penyakit kanker. Terutama polusi udara yang dihasilkan dari kendaraan bermotor dan emisi pabrik.

Apalagi dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) ini sedang booming gowes atau bersepeda. Hampir setiap weekend tiba, sejumlah jalan protokol di Kota Semarang dipenuhi orang yang sedang gowes untuk menyehatkan tubuh. Namun tujuan mulia tersebut dinodai oleh polusi udara yang ada di jalan raya.

"Jika polusi udara terhirup bagi pengguna jalan maupun saat bersepeda, dalam waktu yang lama terus menerus akan tertimbun di paru-paru memicu terjadinya kanker paru," ujar Muslimah, Jumat (17/7).

Ia menerangkan, kualitas udara buruk dapat diamati dari polusi udara yang tampak seperti kabut menyelimuti langit. Hal itu biasa terjadi di kota kota besar misalnya Jakarta. Masyarakat Jakarta pun mau tidak mau harus menghirup udara yang tidak bersih setiap kali mereka beraktivitas di luar ruangan. Demikian pula di Kota Semarang juga mempunyai polusi udara dibawah Jakarta.

"Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas udara yang buruk ini bisa menyebabkan kanker paru," imbuhnya.

Menurutnya, sebuah penelitian menemukan, bahwa polusi udara menyumbang 4 persen dari kasus kanker paru. Bahkan beberapa penelitian berskala kecil di Indonesia juga menemukan bahwa polusi udara ikut berperan terhadap terjadinya sejumlah masalah kesehatan paru, antara lain penurunan fungsi paru (21–24 persen), asma (1,3 persen), Penyakit Paru Obstruktif Kronik, atau PPOK sebanyak 6,3 persen pada non-perokok.  

"Kanker paru adalah kondisi ketika sel-sel kanker yang ganas terbentuk di paru-paru. Kanker ini merupakan satu dari tiga jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia dan lebih sering terjadi pada orang yang punya kebiasaan merokok," jelasnya.

Meski demikian, kanker paru juga bisa terjadi pada orang yang bukan perokok. Hal ini karena selain rokok, masih ada faktor lainnya yang bisa membuat seseorang berisiko mengalami kanker paru-paru. Salah satunya adalah polusi udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan polusi udara seperti asap kendaraan, asap pabrik, dan beberapa polusi lain adalah penyebab kanker.

Selain itu, Badan Penelitian Kanker Internasional, IARC (International Agency for Research on Cancer), merupakan bagian dari WHO, menetapkan polusi udara masuk dalam kategori yang sama dengan asap rokok, radiasi sinar matahari dan plutonium sebagai penyebab kanker. Setelah melakukan bermacam penelitian, IARC menyebut bahwa polusi udara dapat menyebabkan efek positif seperti gangguan jantung dan paru-paru.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Ini Olah Raga yang Tren Selama Pandemi Covid-19

Jumat, 31 Desember 2021 | 11:25 WIB

Ini Khasiat Buah Naga untuk Redakan Batuk dan Flu

Selasa, 28 Desember 2021 | 21:29 WIB
X