Isolasi Sosial Berkepanjangan Picu Depresi, Solusinya?

- Jumat, 3 April 2020 | 14:46 WIB
dr Soesmeyka Savitri SpKJ  (Foto dokumentasi)
dr Soesmeyka Savitri SpKJ (Foto dokumentasi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Dokter spesialis kedokteran jiwa RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Soesmeyka Savitri SpKJ menilai, bagi sebagian besar masyarakat, mewabahnya Covid-19 menimbulkan rasa panik, stres dan takut kehilangan orang-orang tercinta. Kondisi dan perubahan aktivitas ini hanya segelintir dampak dari pandemi tersebut.

"Masyarakat diminta tetap santai dan jangan terlalu panik terkait kondisi sekarang. Namun juga harus waspada dan patuh terhadap imbauan pemerintah dengan tetap berada di rumah," kata Meyka.

Bagi sebagian orang yang memiliki karakter ekstrovert, masa isolasi atau karantina diri dalam mencegah virus corona bisa saja menyiksa dan membosankan. Sebab mereka cenderung lebih suka bersosialisasi aktif ketimbang berdiam diri di rumah.

"Dampak psikis isolasi atau karantina wilayah bisa sangat besar. Para ahli mengatakan, hal ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental mulai dari kecemasan dan kemarahan hingga gangguan tidur, depresi dan post traumatic stress disorder," jelasnya.

Dia mengatakan, karantina atau isolasi sosial yang berkepanjangan tanpa metode kompensasi, akan memperburuk kecemasan, depresi, dan rasa tidak berdaya. Untuk mengatasi beberapa penyebab kesehatan mental ini, harus ada upaya yang dapat membantu mengurangi dampak karantina wilayah terhadap kesehatan mental.

"Adanya isolasi untuk tidak keluar rumah, bisa jadi malah menjadikan kesehatan mental lebih buruk. Walaupun hal ini merupakan usaha memutus penyebaran virus, namun perlu ada kejelasan waktu mulai kapan dan sampai kapan," ujarnya.

Dokter yang juga Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Psikiatri RSUP Dr Kariadi ini menyebutkan beberapa tips yang perlu dilakukan masyarakat agar bisa terlepas dari gangguan kesehatan mental.

Pertama, membiasakan diri dalam mengakses informasi secara sehat. Belakangan, informasi atau berita seputar virus corona muncul di mana-mana, mulai dari media mainstream hingga media sosial.

Dengan demikian, cara tepat untuk menanggulanginya dengan menerima informasi lain dan diimbangi dengan aktivitas santai seperti telepon video bersama teman atau saudara.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

X