• KANAL BERITA

Penggunaan Kosmetik Ilegal Picu Penuaan Dini

Foto: careclubusa
Foto: careclubusa

SEMARANG, suaramerdeka.com – Fenomena penuaan dini di tengah masyarakat semakin memprihatinkan. Pola gaya hidup seperti penggunaan obat kosmetik ilegal tak jarang menjadi salah satu penyebab utama. Demikian disampaikan, dokter RSUP Kariadi Semarang, Dr. Retno Indar W.,Msi,SpKK(K),FINSDV, Jumat (11/5). 

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati menggunakan obat-obat kosmetik. Apalagi sekarang ini penjualannya kian masif, khususnya di media sosial atau internet.  Mereka berupaya menarik konsumen dengan iming-iming hasil yang menggiurkan atau harga murah.

Fakta di lapangan mengungkap, cukup banyak dijumpai kasus penuaan dini yang disebabkan karena salah menggunakan obat-obat kosmetik. Pasien mengeluhkan munculnya kerutan pada wajah bahkan rasa tidak nyaman seperti gatal atau flek hitam.

Di RSUP Kariadi Semarang sendiri, kebanyakan pasien datang mengeluh munculnya jamur kulit. Tak jarang penyakit itu disebabkan karena salah menggunakan kosmetik atau mengkonsumsi obat. Penyakit kulit lain yang sering ditemui adalah biduran, menular seksual, hingga gatal yang disebabkan karena alergi atau hal lain.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Semarang, DR dr Puguh Riyanto, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, menilai semakin banyak fenomena penuaan dini di masyarakat disebabkan karena adanya pergeseran pola piramida kehidupan.

Ia menjelaskan, perubahan piramida kehidupan dimaksud adalah semakin banyak orang yang ingin tampil cantik atau tampan. Hal ini menandakan bahwa taraf  hidup masyarakat meningkat dan tidak lagi memikirkan kebutuhan primer namun juga tersier. “Jika dulu piramida kehidupan nomor satu sandang, pangan, papan. Tapi sekarang bertambah internetan serta dandan. Akibatnya orang berlomba untuk tampil cantik dan tampan,”  katanya.

Perubahan tren ini turut berdampak di lingkungan medis. Sekarang ini minat dokter umum menggeluti spesialis kulit dan kelamin semakin bertambah dan tidak hanya berkecimpung dalam dunia kedokteran pasif.

Namun sayangnya seiring berubahnya piramida kehidupan ini masih ada oknum yang mengatas namakan diri sebagai dokter kecantikan. Entah karena belum tahu atau disengaja guna menarik pasien. “Padahal istilah dokter kecantikan tidak ada, adanya dokter spesialis kulit dan kelamin. Selain itu, istilah klinik kecantikan juga oleh Kemenkes diganti aesthetic medicine, yang berada di bawah naungan klinik utama,,” ujarnya.  

Di klinik aesthetic medicine sendiri hanya boleh dikelola oleh dokter spesialis. Sedangkan dokter umum hanya boleh melakukan empat tindakan estetic, antara lain botok wajah sepertiga ke atas, mikrodermabrasi, peeling superficial, dan Intensive pulse light.

Sedangkan tindakan medis lain seperti laser tidak diperbolehkan karena treatment tersebut banyak resiko dan bersifat spesialistik. Sekarang aturan tersebut belum sepenuhnya ditaati. Pemerintah juga terus mendorong menertibkannya.

Untuk terus meng-update ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kulit dan kelamin,  Perdoski Cabang Semarang akan kembali menggelar event tahunan symposium & workshop, yang kali ini mengangkat tema "Anti Aging". Rangkaian acara berlangsung selama dua hari, 11-12 Mei 2018 di ballroom MG Setos, Semarang.

Ketua Panitia, Dr.YF.Rahmat Sugianto,SpKK menjelaskan, tema anti aging dipilih karena zaman sekarang, paparan sinar ultraviolet ditambah tingkat stres membuat angka penuaan dini meningkat. Jika dulu normalnya kerutan atau flek hitam muncul ketika berumur di atas 50 tahun, saat ini usia remaja sudah ada yang mengalaminya.

Fenomena bertambahnya angka penuaan dini di tengah masyarakat menurut Dr.YF.Rahmat Sugianto,SpKK disebabkan oleh banyak hal, seperti misalnya polusi udara, hingga tingkat radiasi ultraviolet. Selain itu, sekarang ini banyak orang yang mulai memperhatikan penampilan sehingga jika tidak tepat dalam pemakian kosmetik justru dikhawatirkan akan membuat penuaan dini.

Dalam symposium nanti akan dikumpas tuntas segala hal yang berkaitan dengan ilmu anti penuaan dini, termasuk informasi dan treatmen atau tindakan-tindakan medis terbaru.  Menghadirkan beberapa narasumber dokter spesialis kulit dan guru besar level nasional dengan jumlah peserta lebih dari 500 orang.


(Arie Widiarto/CN33/SM Network)