• KANAL BERITA

Seribu Hari Pertama Kehidupan Menentukan Perkembangan Anak

Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Kariadi, dr Bambang Sudarmanto SpA(K) MARS menyampaikan paparan pada Seminar "Nutisi Lengkap Difabel Hebat" di YPAC Semarang, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4 Semarang, Jumat (4/5). (suaramerdeka.com/ Eko Fataip)
Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Kariadi, dr Bambang Sudarmanto SpA(K) MARS menyampaikan paparan pada Seminar "Nutisi Lengkap Difabel Hebat" di YPAC Semarang, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4 Semarang, Jumat (4/5). (suaramerdeka.com/ Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan pada 1.000 hari pertama sejak ia menjalani kehidupan. Artinya, dimulai sejak anak di dalam kandungan hingga dua tahun setelah dilahirkan.

Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Bambang Sudarmanto SpA(K) MARS mengungkapkan, seorang anak yang masih di dalam kandungan perlu mendapatkan nutrisi seimbang dari ibu. Selain nutrisi, juga perlu mendapat stimulasi dan dukungan.

"1.000 hari pertama kehidupan seorang anak itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya. Sejak dalam kandungan hingga dua tahun setelah lahir, anak perlu diberikan nutrisi, stimulasi serta dukungan dari lingkungan dan keluarga," kata Bambang pada Seminar "Nutisi Lengkap Difabel Hebat" di YPAC Semarang, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4 Semarang, Jumat (4/5).

Menurut Bambang, pemberian nutrisi dan stimulasi sejak anak dalam kandungan akan berpengaruh terhadap kondisi setelah lahir. Kondisi bayi lahir dikategorikan aman jika memiliki berat badan cukup, usia kehamilan cukup, sehat, serta dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Dia menambahkan, pada anak difabel, prinsip yang wajib diketahui orang tua adalah meraba, mendengar dan melihat apa yang diinginkan anak. Lalu, yang tidak kalah penting adalah keluarga bisa menerima kondisi anak tersebut sebagaimana seorang anak pada umumnya.

"Orang tua juga harus melatih anak sesuai tahapan perkembangan. Tidak memberikan hadiah maupun hukuman, tetapi melakukan pendampingan. Otak anak difabel bisa diperbaiki, dengan cara memberikan stimulasi secara terus menerus," paparnya.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr Febe Christianto SpGK menambahkan, kebutuhan nutrisi anak difabel dengan anak normal pada dasarnya tidak jauh berbeda. Namun, khusus anak yang tidak banyak aktivitas atau yang lama berada di kursi roda, jumlah kalorinya tidak bisa disamakan.

"Untuk kalori ada perbedaan, terutama yang aktivitasnya kurang, sebab jika sama dikhawatirkan akan lebih mudah kegemukan," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum YPAC Semarang, Murtiningsih Dimulyo berharap para orang tua diharapkan mampu mengaktualisasikan ilmu dan pengetahuan dari pemateri ketika di rumah. "Harapan kami YPAC lebih maju dan bisa mencerdaskan anak bangsa walaupun dalam keadaan difabel," imbuh Ketua Panitia HUT YPAC Semarang ke-64, Rini Wahyu Rochadi.


(Eko Fataip/CN33/SM Network)