• KANAL BERITA

Salah Paham, Fogging Kurang Efektif Cegah DB

FOGGING DB : Pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti dewasa pembawa virus dengue penyebab demam berdarah.  (suaramerdeka.com / Abdul Muiz)
FOGGING DB : Pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti dewasa pembawa virus dengue penyebab demam berdarah. (suaramerdeka.com / Abdul Muiz)

BLORA, suaramerdeka.com – Selama ini masyarakat keliru memahami  tindakan pengasapan (fogging) untuk mencegah merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DB) saat musim hujan. Masyarakat menganggap fogging cara terbaik untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue penyebab demam berdarah.

‘’Justru anggapan tersebut keliru,’’ tegas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Blora, Lilik Hernanto, melalui Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Sutik.

Dia menjelasakan, selama ini sebagian masyarakat menyikapi setiap ada kasus DBD dengan langsung minta dilakukan fogging. Jika sudah dilakukan fogging, mereka merasa aman dari terkena penyakit DBD. ‘’Anggapan seperti ini harus kita luruskan. Fogging bukan cara terbaik memberantas DBD,’’ tegas Sutik.

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.  Pada hari pertama setelah fogging nyamuk akan mati. Namun, sehari berikutnya akan muncul banyak nyamuk lagi karena jentik nyamuk tidak mati saat dilakukan fogging. ‘’Padahal di dalam jentik bisa jadi sudah ada yang membawa virus dengue penyebab demam berdarah,’’ tuturnya.

Selain itu, kata dia, fogging bisa menimbulkan efek resisten terhadap nyamuk itu sendiri. Biaya fogging juga cukup mahal. Menurut Sutik, tindakan yang tepat untuk penanganan DBD adalah pelaksanaan ‘’Saru Santik’’ atau satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Setiap warga semestinya bisa meluangkan waktu 5-10 menit untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sepekan satu kali.

Sebab, umur telur sampai menjadi nyamuk butuh waktu delapan hingga 10 hari.  ‘’Jadi dengan PSN, sebelum jentik tumbuh dewasa, sudah akan mati terlebih dahulu,’’ jelasnya.

Empat Tahapan

Selain PSN, abatisasi atau pemberian bubuk abate di tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras juga perlu dilakukan. Sutik menjelaskan, ada empat tahapan yang bisa dilaksanakan agar terhindar dari penyakit DBD. Tahap pertama, tetapkan dan laksanakan satu rumah satu jumantik yang dikenal dengan PSN. Yakni membersihkan tempat perindukan nyamuk secara bersama-sama seminggu sekali.

Tahap kedua, hindari gigitan nyamuk yang kesukaannya menggigit pada saat dua jam sesudah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Misalnya dengan menggunakan kelambu di tempat tidur yang ditiduri bayi.

Tahap ketiga, pakailah abate pada tempat tempat yang besar dan sulit terjangkau. Dengan cara menaburkan serbuk abate di tepian tempat yang sebelumnya sudah dipenuhi air dan sudah dihitung volumenya dengan perbandingan  satu gram abate untuk 10 liter dan ini bisa bermanfaat selama tiga bulan.

Tahap keempat barulah fogging. Menurut Sutik, fogging dilaksanakan pada alternatif terakhir bila sudah terjadi kasus positif DBD. Sebab, fogging selain bisa mematikan nyamuk dewasa juga menimbulkan efek keracunan, resistansi atau kekebalan, biaya mahal dan waktunya lama. ‘’Jadi, cara yang paling dianjurkan untuk penanganan DBD adalah melaksanakan dan menetapkan program satu rumah satu jumantik (saru santik) atau dikenal dengan PSN.’’

Selain itu dilakukan gerakan PSN dalam rangka pencegahan. Yakni gerakan 3M, menutup, menguras dan mengubur tempat atau wadah penampungan air yang memungkinkan jetik nyamuk berkembang biak.


(Abdul Muiz/CN26/SM Network)