• KANAL BERITA

Bidan Diminta Kenali Faktor Risiko Pre Eklampsia pada Ibu Hamil

Deteksi Dini, Cegah Kematian Ibu dan Bayi

SEMINAR NASIONAL: Dr dr Soerjo Hadijono SpOG menyampaikan materi pada Seminar Nasional Profesionalisme Bidan dalam Penatalaksanaan Pre-Eklamsia Terkini di Stikes Muhammadiyah Gombong. (suaramerdeka.com / Supriyanto)
SEMINAR NASIONAL: Dr dr Soerjo Hadijono SpOG menyampaikan materi pada Seminar Nasional Profesionalisme Bidan dalam Penatalaksanaan Pre-Eklamsia Terkini di Stikes Muhammadiyah Gombong. (suaramerdeka.com / Supriyanto)

GOMBONG, suaramerdeka.com - Setiap hari 38 ibu di Indonesia meninggal dunia akibat penyakit/komplikasi terkait kehamilan dan persalinan yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Padahal sebagian kematian itu seharusnya bisa dicegah dan diselamatkan.

Pre eklampsia/eklampsia menjadi salah satu penyebab kematian ibu dan berkontribusi besar terhadap kematian janin. Pre eklampsia merupakan sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein di dalam urine (proteinuria) dan pembengkakan pada tungkai. Jika pre-eklampsia bertambah parah pada masa kehamilan, maka akan menyebabkan eklampsia yang dapat berujung pada kematian.

Ketua Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) Dr dr Soerjo Hadijono SpOG (K) mengatakan bahwa salah satu pencegahan kasus pre eklamsia adalah dengan pengenalan faktor risiko, deteksi dini dan penanganan cepat-tepat. Keluarga seperti suami, orang tua, maupun mertua harus dilibatkan sejak awal.

Petugas kesehatan dalam hal ini bidan bisa menilai faktor risiko pada kunjungan antenatal pertama (anamnesis). Seperti usia kurang dari 16 tahun dan lebih dari 40 tahun, nulipara (wanita yang melahirkan, tetapi anaknya tidak pernah hidup,red), multipara dengan riwayat preeklampsia, multipara dengan pasangan baru, jarak kehamilan 10 tahun lebih, riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan.

Kemudian kehamilan multipel, Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM), hipertensi kronik, penyakit ginjal, sindrom antifosfolipid (APS), penyakit vaskuler dan pembuluh darah, kehamilan dengan inseminasi donor sperma, oosit atau embrio obesitas sebelum/selama hamil.

"Yang terjadi adalah bidan melakukan secara menyeluruh melakukan pengenalan faktor risiko sehingga tidak terjadi deteksi dini sehingga berdampak pada penanganan yang tidak cepat dan tepat,"  ujar Dr Soerjo Hadijono dalam Seminar Nasional Kebidanan di Stikes Muhammadiyah Gombong, baru-baru ini.

Seminar nasional yang digelar Prodi DIII Kebidanan Stikes Muhammadiyah Gombong bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kebumen tersebut mengangkat tema Profesionalisme Bidan dalam Penatalaksanaan Pre Eklampsia Terkini. Seminar diikuti oleh 200 bidan antara lain dari Kebumen, Purworejo, Pemalang, Cilacap, dan Banjarnegara serta para mahasiswa kebindanan.

Dalam kesempatan itu, dokter Soerjo Hadijono yang merupakan Master Trainer Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi Pokjanas PONEK/PONED Kementerian Kesehatan RI menjadi pembicara utama memaparkan materi profesionalisme bidan dalam penatalaksanaan terkini pre eklampsia/eklampsia.

Update Ilmu

Pembicara lain hadir Pengurus Pusat IBI Bintang Petralina SST MKeb menyampaikan materi profesionalisme bidan dalam penatalaksanaan terkini pre eklampsia/eklampsia berdasarkan kewenangannya. Kemudian Dosen Prodi DIII Kebidanan Siti Mutoharoh SST MPH memaparkan materi berjudul "WHO Recomendation on Antenatal care for A Positive Pregnancy Experience" dan Dosen Prodi DIII Kebidanan Stikes Gombong  Eni Indrayani SSiT MPH menyampaikan materi Asuhan Komprehensif pada Ibu Postpartum dengan Pre Eklampsia.

Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen dr Hj Yohanita Rini Kristiani MKes. Hadir Ketua IBI Cabang Kebumen Hamidah dan Ketua Stikes Muhammadiyah Hj Herniyatun MKep Sp Mat serta sejumlah dosen.

Lebih lanjut, dokter Soerjo meminta para bidan untuk terus belajar dan membangun kembali keilmuan. Bidan yang sudah senior sekalipun diminta untuk tidak rendah diri untuk belajar kembali ke kampus untuk mengupdate ilmu baru daripada melakukan sesuatu yang salah. "Penanganan persalinan merupakan sebuah sistem yang menyeluruh. Jika ada satu yang terlambat, seluruh sistem akan terlambat. Tidak ada tuduh-tuduhan," tandasnya.

Dosen Stikes Gombong Eni Indrayani SSiT MPH menyampaikan bahwa pre-eklampsia dan eklampsia masih bisa terjadi setelah persalinan. Risiko terjadi pre-eklampsia masih cukup tinggi selama 28 hari setelah hari-H persalinan berlalu. Sebagian besar kasus terjadi pada 48 jam setelah persalinan hingga enam minggu.

Penyebab postpartum pre-eklampsia belum diketahui pasti. Beberapa ahli menduga sejumlah faktor pemicu, antara lain penurunan volume cairan intravaskuler, faktor genetik, pola makan kurang baik, defisiensi vitamin A, penolakan sistem imun dari plasenta oleh tubuh ibu. "Meski faktor penyebab pasti belum diketahui, untuk standar cara penanganan yang dilakukan di seluruh dunia relatif hampir sama," katanya.

Adapun untuk mencegah tekanan darah tinggi hingga setelah melahirkan, beberapa cara yang dilakukan. Yakni memeriksa tekanan darah secara rutin selama hamil dan beberapa minggu setelah persalinan. Menjaga kenaikan berat badan selama kehamilan dan setelah melahirkan. "Yakni menerapkan pola hidup sehat dengan makanan sehat, bergizi seimbang, sehingga kebutuhan vitamin dan mineral terpenuhi, berolahraga, menghindari rokok dan alkohol," katanya.


(Supriyanto/CN26/SM Network)