• KANAL BERITA

31 Sarjana Kesehatan Masyarakat Unikal Diambil Sumpah

SERAHKAN SERTIFIKAT: Ketua Pengda Ikatakan Ahli Kesematan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Tengah, Taufik Kurachman secara simbolis menyerahkan sertifikat kepada ahli kesehatan masyarakat di Hotel Horison. (suaramerdeka.com / Trias Purwadi)
SERAHKAN SERTIFIKAT: Ketua Pengda Ikatakan Ahli Kesematan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Tengah, Taufik Kurachman secara simbolis menyerahkan sertifikat kepada ahli kesehatan masyarakat di Hotel Horison. (suaramerdeka.com / Trias Purwadi)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com – Sebanyak 31 sarjana kesehatan masyarakat (Kesmas) Universitas Pekalongan diambil sumpahnya sebagai ahli kesehatan masyarakat yang berlangsung di Hotel Horison, kemarin.

Pengambilan sumpah itu dilakukan oleh Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Tengah, Taufik Kurachman dengan disaksikan oleh Rektor Unikal, Suryani dan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Imam Purnomo dan beberapa dosen setempat.  Selain pengambilan sumpah,  lulusan S1 Kesmas itu menerima sertifikat sebagai ahli kesehatan masyarakat.

Taufik Kurachman dalam sambutannya mengatakan, tenaga ahli Kesmas merupakan ujung tombak yang berhadapan dengan masyarakat terutama untuk melakukan terobosan di bidang kesehatan agar masyarakat berperilaku sehat. Ahli Kesmas juga memiliki peran penting dalam mencegah penyakit yang diderita masyarakat.

Jika penyakit yang muncul akibat dari perilaku warga sendiri bisa dicegah, maka jelas akan mengurangi biaya besar melalui kepesertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKM) pada BPJS Kesehatan. Dia mengingatkan bahwa biaya perawatan orang yang sudah sakit itu sangat besar. Tak aneh, jika beberapa waktu lalu Kementerian Keuangan sempat gundah karena biaya kesehatan yang harus dibayar sangat besar.

Sempat terjadi pro dan kontra untuk meningkatkan premi kepesertaan BPJS, meski akhirnya dinaikkan. Menurut  Taufik, persentase masyarakat Indonesia yang sakit 30 persen dan yang sehat 70 persen. Kalau sakit jantung yang harus cuci darah, jelas biayanya tinggi. "Sekali cuci darah, biayanya lebih dari Rp 2 juta. Padahal, harus dilakukan rutin sepekan dua kali dengan biaya BPJS jika mereka menjadi peserta JKM," katanya.

Dia mengatakan, kenyataan banyaknya orang sakit dengan biaya BPJS, maka jelas Pemerintah tidak akan mampu. Karena itu, peran penting ahli Kesmas dalam mencegah penyakit sangat diharapkan. Ahli kesehatan memiliki fungsi edukasi. Melalui fungsi itulah, ahli kesehatan bisa mencegah perilaku masyarakat yang menyebabkan sakit melalui pendidikan pada masyarakat.

Suryani, Rektor Unikal menjelaskan, pengambilan sumpah itu merupakan beban yang berat karena harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan YME. Karena itu, ahli kesehatan masyarakat harus amanat dalam menjalankan tugasnya.


(Trias Purwadi/CN26/SM Network)