• KANAL BERITA

Satu dari 500-700 Bayi Terlahir dengan Bibir dan Lelangit Sumbing

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com – Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang hingga akhir 2018 mencapai 1,39% menandakan setiap tahunnya terdapat 4.2-4.8 juta bayi baru lahir. Menurut World Health Organization, satu dari 500-700 dari bayi baru lahir tersebut terlahir dengan adanya bibir dan lelangit sumbing. Sehingga diperkirakan di Indonesia terdapat 5800 bayi lahir dengan bibir dan lelangit sumbing.

Bibir dan lelangit sumbing termasuk kelainan kraniofasial yang penyebabnya multifaktorial. Kelainan ini terjadi akibat kegagalan pembentukan bibir dan lelangit pada minggu keempat hingga enam masa kehamilan. Akibatnya, terdapat celah pada bibir dan lelangit sang bayi.

Keberadaan anak dengan bibir dan lelangit sumbing merupakan salah satu beban masalah kesehatan yang kadang terabaikan. Inilah yang mendasari didirikannya Cleft and Craniofacial Center (CCC) RSCM-FKUI dan peringatan Bulan Juli sebagai Bulan Kepedulian Bibir dan Lelangit Sumbing. Pada Bulan Juli ini, CCC RSCM-FKUI menggelar Cleft and Craniofacial Awareness and Prevention Month yang bertajuk “Berbagi Senyum untuk Generasi Penerus Bangsa”.

Kegiatan ini meliputi peluncuran booklet “Perawatan Pascaoperasi Bibir dan Lelangit Sumbing”, leaflet “Pentingnya Menjaga Kesehatan Rongga Mulut”, peluncuran Program Pengampuan Cleft and Craniofacial Center di daerah, sosialisasi di Car Free Day, dan seminar “Comprehensive Cleft Care” untuk dokter umum.

Kepala Unit Pelayanan Khusus Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI, dr. Kristaninta Bangun, SpBP-RE (KKF) menjelaskan, pihaknya sangat antusias untuk dapat menggelar kembali Bulan Kepedulian dan Kewaspadaan Bibir dan Lelangit Sumbing pada tahun 2019 ini. Sebagai klinik terpadu yang menangani para pasien bibir dan lelangit sumbing di Indonesia, kami tentunya ingin turut ambil bagian dan berkontribusi nyata dalam peringatan Bulan Kepedulian dan Kewaspadaan Bibir dan Lelangit Sumbing.

Rangkaian acara ini bermaksud untuk meningkatkan kesadaraan masyarakat terhadap kondisi bibir dan lelangit sumbing dan akibat yang dapat ditimbulkannya. "Sehingga hal ini diharapkan dapat membantu para orang tua yang memiliki anak dengan kelainan bibir dan lelangit sumbing untuk mendapatkan informasi serta penatalaksanaan multidisiplin yang tepat," katanya.

Dr. Luh K. Wahyuni, SpKFR (K) menambahkan, pihaknya juga mengajak para orang tua dan masyarakat untuk dapat mengenali secara dini agar penderita bibir dan lelangit sumbing bisa mendapat akses ke pelayanan kesehatan yang efektif sejak dini untuk mendapatkan hasil yang baik, tidak hanya secara estetik namun juga secara fungsional, sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif.

Turunkan Risiko

Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) sebagai Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berpesan kepada setiap wanita usia reproduktif dan ibu hamil khususnya, agar dapat menurunkan risiko bayi yang dikandung menderita kelainan bibir dan lelangit sumbing, kiranya dapat lebih memperhatikan asupan gizi selama kehamilan, seperti mengkonsumsi makanan kaya asam folat, menerapkan pola hidup sehat di masa kehamilan, menghindari konsumsi obat-obatan dan alkohol serta menghindari kebiasaan merokok.

Sementara menurut Direktur Utama RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr. Lies Dina Liastuti, SpJP, MARS, pelayanan terpadu di Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI tentunya menjadi solusi bagi para orang tua yang memiliki anak dengan bibir dan lelangit sumbing. Sebagai rumah sakit umum pemerintah yang juga berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan, kami senantiasa terpacu untuk berinovasi demi meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Kasus bibir dan lelangit sumbing pada anak yang cukup tinggi dan kompleks inilah yang mendasari RSCM melahirkan fasilitas unggulannya yang dikhususkan bagi penderita kelainan bibir dan lelangit sumbing dan kelainan kraniofasial lainnya.

Dengan kehadiran Cleft and Craniofacial Center, pusat ini dapat menjadi rujukan nasional dan sarana untuk penyembuhan dan perawatan anak dengan bibir dan lelangit sumbing yang terlengkap dan terpadu mulai dari pelayanan sejak dini, sesuai tahap pertumbuhan dan perkembangan, multi dan interdisiplin dan berkesinambungan, sehingga dapat mengurangi beban kesakitan akibat bibir dan lelangit sumbing yang ada saat ini.

Selain itu, melihat prestasi dari Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI ini, sudah saatnya kami melakukan pengampuan pembentukan Cleft and Craniofacial Center di daerah lainnya di Indonesia sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi.

Dia berharap semoga kedepannya, kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyrakat terhadap bibir dan lelangit sumbing dan bukan lagi menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak serta mengukir senyuman dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.


(Mahendra Bungalan/CN26/SM Network)