• KANAL BERITA

Anak Kecanduan Merokok, Salah Siapa?

Foto: istimewa
Foto: istimewa

SORE itu, ketika pulang dari aktivitas yang padat, saya melihat segerombolan anak muda, baik itu anak sekolah ataupun yang tidak berseragam yang sedang asik bercengkrama di warung. Terdapat salah satu siswa yang sedang menyeduh es kopi pesanannya, serta diselingi mengisap rokok yang sedang dipegang.

Faktor yang menyebabkan hal ini mungkin sepele, bisa saja berawal dari orang tua yang sering menyuruh anaknya untuk membelikan rokok, atau bisa saja tergoda dengan teman sebayanya yang sudah berani menghisap batang rokok. Padahal seorang anak biasanya gampang sekali untuk terpengaruh oleh tingkah laku orang lain.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K) dikutip dari http://www.depkes.go.id/, lebih dari sepertiga pelajar dilaporkan biasa merokok, dan ada 3 di antara 10 pelajar menyatakan pertama kali merokok pada umur di bawah 10 tahun (The Global Youth Tobacco Survey, 2006).

Melihat data di atas, terlihat jika keluarga mempunyai peranan penting mengenai kebiasaan seorang anak yang merokok. Dari kebiasaan di dalam rumah tentunya akan menjadi kebiasaan di luar. Belum lagi pengawasan orang tua yang tidak bisa penuh selama 24 jam, menambah kemungkinan anak di bawah umur untuk merokok, Faktor lingkungan juga bisa mempengaruhi hal tersebut.

Lingkungan sekolah dan pergaulan anak juga harus diperhatikan. Tidak jarang jika seorang guru merokok di depan siswa-siswinya ketika jam istirahat ataupun pulang sekolah. Hal ini juga menjadi pemicu rasa keingin tahuan anak untuk merokok.

Peraturan Pembatasan

Mungkin peraturan batas minimal usia perokok harus lebih diperhatikan. Pembatasan berupa larangan mengonsumsi dan membeli rokok oleh anak di bawah usia 18 tahun sudah sering kita lihat di iklan media massa. Namun yang terjadi di lapangan bertolak belakang dengan iklan tersebut.

Para pedagang rokok seolah-olah tidak memperdulikan peraturan tersebut. Anak-anak dibuat mudah mendapatkan rokok. Mudahnya anak-anak memperoleh rokok, tentunya akan memberi pengaruh terhadap lingkungan kepada anak yang tidak merokok.

Dalam hal ini pemerintah memang berperan besar. Jika pemerintah lebih tegas dalam peraturan bukan tidak mungkin angka perokok di Indonesia akan jauh menurun. Namun untuk mencapai hal itu pemerintah akan menemui batu yang besar, antara lain, para produsen rokok akan melakukan protes, karena mengingat keuntungan mereka akan berkurang secara drastis, dengan berkurangnya keuntungan mereka, maka nasib buruh rokok menjadi tanda tanya, bagaimana nasib para petani tembakau?

Kebanyakan perokok sebenarnya menyadari bahaya rokok. Tapi mungkin karena terlambat menyadari sehingga mereka sudah terlanjur tercandu oleh itu, dan tidak ada niat yang kuat berhenti. Terlambat sadarnya karena mungkin, ketika awal ia mulai mengonsumsi rokok itu waktu kecil dan ia belum tahu apa-apa tentang bahaya rokok, dan ketika ia tahu sudah terlambat dan dalam benaknya sudah tertanam sulit untuknya lepas dari rokok.

Tapi keinginan berbagai pihak untuk mengurangi jumlah perokok tidak akan terwujud tanpa kerjasama dari berbagai pihak. Entah itu itu dari orang tua, atau para distributor rokok. Dalam artian para penjual rokok, dan pemerintah. Karena apabila tidak ada kerja sama dari pihak-pihak itu mustahil akan tercapai semua itu.

-Anisa Fauzia, Ilmu Komunikasi Unissula


(Red/CN26/SM Network)