• KANAL BERITA

4.129 Balita di Demak Alami Stunting

PENANGGULANGAN STUNTING : Direktur lnfokom PMK Kementerian Komunikasi dan lnformatika (Kominfo), Wiryanta menyosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang digelar gedung BKPP. (suaramerdeka.com / Hasan Hamid)
PENANGGULANGAN STUNTING : Direktur lnfokom PMK Kementerian Komunikasi dan lnformatika (Kominfo), Wiryanta menyosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang digelar gedung BKPP. (suaramerdeka.com / Hasan Hamid)

DEMAK, suaramerdeka.com - Pemkab Demak terus berupaya menanggulangi potensi stunting di daerahnya. Hingga tahun 2019, terdapat sebanyak 6.129 balita yang berpotensi stunting atau sejumlah 4,25 persen dari total balita 97.212 jiwa.

"Untuk menanggulangi stunting, Pemkab Demak menetapkan 10 lokasi khusus yang akan mendapat perhatian khusus di tahun 2020 dan 2021," terang Kepala Bidang Komunikasi Dan Statistik Diskominfo Kabupaten Demak, Agus Pramono di sela Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kegiatan yang bertujuan melakukan gerakan penurunan prevalensi stunting di gedung Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Demak, dihadiri seratusan
peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Adapun 10 desa yang jadi prioritas penanggulangan stunting antara lain Desa Bumirejo, kemudian tiga desa di Kecamatan Gajah, Desa Kembangan, Desa Betahwalang, Desa Donorejo, Desa Sidomulyo dan lainnya. "Pemkab telah menyusun rencan strategis dengan melibatkan semua OPD dan instansi terkait, termasuk masyarakat sekitar," terangnya.

Sementara itu Direktur lnfokom PMK Kementerian Komunikasi dan lnformatika (Kominfo), Wiryanta PhD mengatakan, stunting harus menjadi perhatian semua pemangku kepentingan baik pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pesantren maupun semua lapisan masyarakat.

Di tingkat nasional, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bekerja keras dalam upaya menurunkan tingkat prevalensi stunting, dari 37,2 persen berdasarkan Riskedas, 2013 menjadi 30,8 persen sebagaimana Riskedas 2018. Meski terjadi penurunan, namun angka tersebut masih tinggi karena masih ada tiga dari 10 balita stunting di Indonesia.

"Faktor kesehatan hanya 30 persen, selebihnya adalah keterlibatan semua pengku kepentingan. Kita harus bersama-sama terlibat dalam mengatasi stunting,"
jelasnya.

Gerakan penanggulangan stunting digiatkan, bukan hanya melalui sosialisasi tetapi juga kebijakan peningkatan gizi seperti dengan melakukan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak, sumplementasi gizi, pemberian tablet tambah darah, dan konsultasi. Selain itu melakukan intervensi sensitif atau non gizi dengan penyediaan sanitasi dan air bersih, lumbung pangan, alokasi dana desa, edukasi, sosialisasi dan sebagainya.


(Hasan Hamid/CN26/SM Network)