• KANAL BERITA

Berbahayakah Penyakit Cacar Monyet?

Ilustrasi Istimewa
Ilustrasi Istimewa

PENYAKIT langka cacar monyet (monkeypox) telah dikonfirmasi sampai di Singapura, dibawa seorang pria asal Nigeria. Batam melakukan upaya antisipasi dengan mengarantina 24 orang yang diduga tertular virus yang disebut orthopoxvirus.

Awalnya, pria berusia 38 tahun yang tak disebutkan namanya itu pergi ke Singapura untuk mengikuti lokakarya di hotel tempatnya menginap pada 29-30 April.

Setelah menjalani pemeriksaan, (8/5) lalu ia positif terinfeksi monkeypox. Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) kemudian mengidentifikasi 18 peserta dan seorang staf lokakarya, empat karyawan hotel.

Lantas, apa sebenarnya penyakit cacar monyet itu? Bagi sebagian besar orang, mungkin penyakit ini terdengar asing karena memang sudah jarang ditemukan. Penyakit cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit zoonosis, dimana virus penyebabnya dapat menyebar dari hewan ke manusia. 

Monkeypox maupun cacar berasal dari keluarga poxvirus yang disebut orthopoxvirus. Sejak 1970, kasus monkeypox pada manusia telah dilaporkan di 10 negara Afrika. Pada 2017, Nigeria mengalami wabah monkeypox pertama sejak 1978, dengan 172 kasus.

Virus orthopoxvirus merupakan penyebab dari cacar monyet. Virus ini masuk dalam kelompok poxviridae, bersama dengan virus penyebab smallpox. Itulah sebabnya sejak berhasilnya eliminasi variola (smallpox) berkat imunisasi, penyakit cacar monyet pun ikut menurun angka kejadiannya.

Virus cacar monyet menyebar melalui kontak langsung manusia dengan cairan tubuh, darah, atau kulit dari hewan yang terinfeksi. Hewan yang terinfeksi umumnya adalah monyet, tupai, dan tikus Gambian. Selain itu, penyebaran penyakit ini juga dapat terjadi dari manusia ke manusia.

Bila seseorang kontak langsung dengan lesi kulit, cairan tubuh, atau lendir dari pernapasan penderita infeksi cacar monyet, maka orang tersebut berpotensi untuk ikut terinfeksi. Virus ini juga terdapat dalam droplet (partikel kecil) sehingga ketika penderitanya batuk, bersin, orang-orang di sekitarnya dapat terinfeksi.

Orang juga bisa tertular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit yang terinfeksi. Juga melalui kontak tidak langsung dengan pakaian yang terkontaminasi.

Gejala biasanya muncul sekitar dua minggu setelah seseorang terpapar monkeypox. Gejala awal bisa berupa demam, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Tak lama setelahnya, pasien mengalami ruam cacar dengan lesi yang sering muncul di wajah dan badan. Lesi berkembang menjadi lepuh kecil yang berisi cairan sebelum jadi luka dan mengelupas.

Biasanya penderita monkeypox akan pulih dalam dua hingga empat minggu. Pada beberapa orang, mungkin ada bekas luka akibat ruam.

Monkeypox dan cacar punya gejala sama, namun monkeypox tidak sama bahayanya dengan cacar. Dalam wabah sebelumnya, tingkat kematian akibat monkeypox antara 1 persen dan 10 persen. Sebaliknya, cacar memiliki tingkat kematian sekitar 30 persen.

Meski penyebarannya relatif cepat, cacar monyet umumnya dapat sembuh sendiri (self-limited) layaknya penyakit akibat virus lainnya. Penyembuhannya umumnya memerlukan waktu 2-4 minggu. Komplikasi yang berat hingga kematian terjadi pada pasien yang memang mengalami kondisi penyulit seperti gizi buruk. Pengobatan umumnya bertujuan untuk mengurangi gejala seperti demam, nyeri kepala, nyeri otot.

Sejauh ini belum ada vaksin yang secara spesifik mencegah infeksi cacar monyet. Namun, vaksin terhadap cacar (smallpox) efektivitasnya mencapai 85 persen untuk mencegah cacar monyet.

Langkah pencegahan yang paling efektif adalah mengurangi kontak antara hewan dan manusia. Usahakan tidak memelihara hewan yang dapat terinfeksi cacar monyet, seperti hewan-hewan primata. Apabila sudah melakukan kontak dengan hewan, cucilah tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Jangan lupa laporkan kepada petugas kesehatan bila menemukan hewan yang menunjukkan gejala seperti mata berair dan ada luka terbuka di kulit.
 


(Red/CN19/SM Network)