• KANAL BERITA

Memahami Autisme Sejak Dini

Oleh dr Mirna Damar Santi

Foto: istimewa
Foto: istimewa

KEHADIRAN seorang anak  tentulah dinantikan oleh pasangan yang sudah menikah sebagai pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangganya. Buah hati yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik mulai dari dalam kandungan sampai si jabang bayi lahir secara normal sesuai dengan usia si anak.

Saat ini kata autisme sering terdengar dalam kehidupan sehari hari dikaitkan dengan perilaku aneh, bahasa ataupun reaksi yang tidak wajar yg ditemukan pada anak , balita atau bahkan pada bayi. Sekalipun pada bayi memang lebih sulit terlihat secara langsung.

Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak yang biasanya telah terlihat sebelum berumur tiga tahun, ataupun bisa juga ditemukan sebelumnya. Gangguan bisa berupa ketidakmampuan untuk berkomunikasi, mengekspresikan perasaan maupun keinginannya. Akibatnya perilaku dan hubungannya dengan orang lain menjadi  terganggu, sehingga keadaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.

Walaupun belum ada angka pasti jumlah anak penyandang autisme di Indonesia, namun pemerintah merilis  data jumlah anak penyandang autisme di kisaran 112 ribu  jiwa pada tahun 2010 lalu. Sementara prevalensi autisme meningkat dari 1:1.000 kelahiran di awal tahun 2000 menjadi 1,68:1.000 kelahiran di tahun 2008. Menurut data terkini yang dirilis oleh Centre of Disease Control (CDS) di Amerika pada bulan Maret 2014, prevalensi (angka kejadian) autisme adalah 1 dari 68 anak atau secara lebih spesifik adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan.

Penyebab autisme sangat kompleks yang sebenarnya belum pasti namun hal hal yang diyakini menjadi sebab terjadinya autisme yaitu terdapat pada fase sebelum kelahiran misalnya ibu terinfeksi TORCH (toksoplasmosis,rubella,cytomegali dan herpes), logam berat (Pb,Al,Hg dan Cd),peptisida, mercuri, zat aditif (MSG, pengawet, pewarna), perdarahan hebat dan muntah hebat pada ibu mengandung dan juga faktor genetik.

Pada fase kelahiran terdapat beberapa penyebab autisme antara lain proses kelahiran yang lama dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin. Pada saat setelah lahirpun hal ha lain masih memegang peran yaitu adanya infeksi pasca kelahiran, dari protein tepung susu(kasien) dan tepung terigu (gluten).

Terdapat beberapa gangguan tersebut antara lain distrofi otot, fragile X syndrome, lumpuh otak atau cerebral palsy, neurofibromatosis, sindrom Down, Sindrom Rett serta konsumsi minuman beralkohol, dan obat-obatan (terutama obat epilepsi) dalam masa kehamilan, dapat meningkatkan risiko anak yang lahir menderita autisme.

Dapatkan perlengkapan kesehatan dan kecantikan dengan harga termurah

Merupakan anggapan yang keliru apabila vaksin MMR bisa menyebabkan austisme dibuktikan tidak adanya penelitian yang menyatakan hal tersebut. Jadi jangan ragu untuk memberikan vaksin tersebut untuk buah hati tercinta. Penting bagi orang tua untuk mewaspadai tanda bahaya mulai usia dini.

Tanda bahaya adalah tanda atau gejala yang apabila masih terlihat pada usia tertentu, harus segera dilakukan tindakan, antara lain:

1.    tidak ada babbling (ocehan), tidak menunjuk, atau tidak menunjukkan mimik wajah yang wajar pada usia 12 bulan
2.    Tidak ada kata-kata berarti pada usia 16 bulan
3.    Tidak ada kalimat terdiri dari 2 kata yang bukan ekolalia(mengulangi perkataan) pada usia 24 bulan
4.    Hilangnya kemampuan berbahasa atau kemampuan sosial pada usia berapa pun.
5.    Anak tidak menoleh atau sulit menoleh apabila dipanggil namanya pada usia 6 bulan

Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial-emosional. Mereka sulit diajak bercakap-cakap,dari dinilai kurang sampai tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan, atau tidak memberi respons sama sekali jika dipanggil atau diajak bicara.  Tidak adanya kontak mata, tidak ada ekspresi wajah, atau bahasa tubuh lainnya  dapat menunjukkan anak menderita autisme.

Untuk anak yang lebih besar, dimana pertemanan biasanya mulai terbentuk, anak dengan autisme sulit menjalin pertemanan sampai tidak menaruh minat terhadap teman. Perilaku, minat, dan aktivitas anak dengan autisme sangat terbatas (stereotipik) dan sifatnya berulang (repetitif).

Dalam berbicara atau interaksi dengan benda, anak biasanya menggerakan anggota tubuh tertentu berulang-ulang, menderetkan mainan, menumpuk kaleng, mebalik-balik benda atau lembaran buku, atau mengulangi perkataan orang (ekolalia). Anak cenderung melakukan rutinitas yang itu itu saja dan anak hanya menyukai benda atau mainan tertentu.

Dapatkan perlengkapan ibu dan anak dengan harga termurah

Sebaiknya anak dibawa ke dokter untuk dilakukan skrining perkembangan rutin mulai usia sembilan bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Pada usia 18 bulan dan 24 bulan, atau pada usia berapapun anak ditemukan tanda bahaya, anak dilakukan skrining khusus untuk autisme.

Pemeriksaan dengan alat khusus yang disebut Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada otak ditemukan adanya kerusakan yang khas di dalam otak pada daerah yang disebut dengan sistem limbik (pusat emosi). Pada umumnya individu autisme tidak dapat mengendalikan emosinya, sering agresif atau sangat pasif seolah- olah tidak mempunyai emosi.

Membuat Diagnosa autisme bisa jadi sulit ditegakkan karena sangat bervariasi dari satu orang ke orang lainnya. Jadi apabila anak anda ada tanda tanda seperti diatas berkonsultasilah pada dokter sesegera mungkin.

*Penulis merupakan dokter dari Klinik Pondok Sehat Delanggu Klaten.


(Red/CN26/SM Network)