• KANAL BERITA

Lebihi Kapasitas, Perawatan di Panti Among Jiwo Kurang Maksimal

REHABILITASI : Para penyandang sakit jiwa (psikiotik) berada di tempat penampungan Rehabilitasi Sosial Among Jiwo, Semarang, Selasa (19/2). (suaramerdeka.com/ Pamungkas Suci Ashadi)
REHABILITASI : Para penyandang sakit jiwa (psikiotik) berada di tempat penampungan Rehabilitasi Sosial Among Jiwo, Semarang, Selasa (19/2). (suaramerdeka.com/ Pamungkas Suci Ashadi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo Semarang berfungsi untuk memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi yang terjaring razia Satpol PP Kota Semarang. Rehabilitasi sosial tersebut diberikan bagi penyandang masalah sosial khususnya gelandangan, pengemis, pengamen, orang terlantar dan penderita sakit jiwa (psikiotik) terlantar.

Akan tetapi, jumlah tampungan melebihi kapasitas yang tersedia di panti. Hal tersebut berdampak pada perawatan yang kurang maksimal. Kepala Panti Resos Among Jiwo, Sudiyono mengatakan, Panti Among Jiwo hanya mampu untuk menampung dengan kapasitas 60 orang. Namun hingga saat ini jumlah semakin bertambah dan menjadi 100 orang.

Rehabilitasi itu lebih di dominasi oleh penderita psikotik atau sakit jiwa dan orang terlantar. Walaupun jumlah orang yang di rehabilitasi melebihi batas, Sudiyono tetap menerima dan menampung mereka demi kemanusiaan.

"Saat ini jumlah tampungan melebihi batas yang disediakan yaitu lebih dari seratus orang. Sehingga dalam memberikan perawatan kurang maksimal. Akan tetapi, kami mengusahakan sebisa mungkin untuk memenuhi hak-hak mereka sebagai manusia karena mendapatkan posisi yang tidak beruntung," ujar Sudiyono, Selasa (19/2).

Adapun jika tidak bisa untuk menampung lebih dari seratus orang, Sudiyono berusaha mencarikan panti rehabilitasi sosial lain yang bersedia untuk menampung mereka.

Menurutnya, jumlah orang yang perlu direhabilitasi semakin bertambah dikarenakan tidak ada tempat bagi mereka. Sehingga Panti Among Jiwo digunakan sebagai persinggahan. Sedangkan di panti rehabilitasi sosial yang lain terlalu selektif, ketat dan persyaratan untuk masuk terlalu mendetail sehingga mereka sulit untuk mendapatkan pelayanan.

Selain itu, dia menghimbau kepada keluarga yang memiliki saudara tidak beruntung, agar peduli terhadap kehidupan mereka. Berusaha untuk mencari dan menjadikan mereka kembali lagi dalam kesatuan keluarga dan tidak terlalu lama di panti sampai bertahun-tahun.

"Sebenarnya Panti Among Jiwo hanya menampung paling lama 20 hari. Setelah itu dikembalikan kepada keluarganya. Namun banyak dari keluarga ada yang tidak mau merawat karena ada keterbatasan. Apalagi ketika dipindahkan ke panti lain, namun panti tersebut tidak mau menerima akhirnya mereka tetap ditampung disini," imbuhnya.

Kemudian bagi penderita psikotis dan tidak memiliki identitas dari Panti Among Jiwo berusaha untuk mempertemukan kembali kepada keluarganya. Dengan cara dibawa ke Disdukcapil untuk dilakukan sidik jari, agar mengetahui alamat rumah mereka. Jika sudah ketemu alamat rumah mereka, kemudian akan diantarkan kembali kepada keluarga.


(Pamungkas Ashadi/CN33/SM Network)