• KANAL BERITA

E-Health Minimalkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

SAMPAIKAN MATERI: Seorang moderator tengah menyampaikan materi global tentang sistem elektronik kesehatan (e-health) dalam Seminar Alma Ata Center Medical Informatics (AACMI) 2018 di kampus setempat, Selasa (23/10). (Suaramerdeka.com/ Gading Persada)
SAMPAIKAN MATERI: Seorang moderator tengah menyampaikan materi global tentang sistem elektronik kesehatan (e-health) dalam Seminar Alma Ata Center Medical Informatics (AACMI) 2018 di kampus setempat, Selasa (23/10). (Suaramerdeka.com/ Gading Persada)

BANTUL, suaramerdeka.com - Kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) di Indonesia tergolong masih tinggi. Adanya sistem elektronik kesehatan atau yang lebih dikenal e-health diharapkan mampu meminamalisasi kasus AKI dan juga AKB tersebut.

Demikian disarikan dari Seminar Alma Ata Center Medical Informatics (AACMI) 2018 di kampus setempat, Selasa (23/10).

"Salah satu penerapan strategis terkait e-health yakni e-health bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak. Pentingnya e-health bagi ibu dan anak dilatarbelakangi atas masih tingginya kasus kematian ibu dan bayi yang terjadi di Indonesia," papar pakar e-health dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Anis Fuad, DEA.

Berbicara sebagai salah satu narasumber seminar, Anis menambahkan peran e-health untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis teknologi informasi.

"Selain itu untuk menuju revolusi industri 4.0 teknologi informasi dapat masuk masuk ke segala lini sehingga pengelolaan data kesehatan secara online sangat diperlukan," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Alma Ata Center Medical Informatics (AACMI) 2018, Dadang Heksaputra, M.Kom menjelaskan saat ini masalah status kesehatan masyarakat masih rendah. Hal ini ditandai dengan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi serta indikator pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi tergolong belum ideal.

Berkaca pada data 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 228 per 100 ribu kelahiran dan Angka Kematian Bayi (AKB) berkisar 26,9 per 1000 kelahiran. Sementara jumlah ini menurun pada 2015 sebanyak 29 kasus AKI. Meski demikian kasus AKI tetap tinggi.

"Kasus kematian ibu terbanyak di DIY yang ditemukan penyebabnya yakni jantung, tyroid, stroke dan beberapa kasus lain. Adapun gejala penyakit ini sebenarnya dapat dideteksi secara dini dengan pemeriksaan rutin yang komprehensif. Maka dari itu sistem e-health diperlukan bagi pelayanan ibu dan anak," sambung Dadang.

Adapun Rektor Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta, Dr H Hamam Hadi, MS,SC.D,Sp.GK menguraikan AKI dan AKB di Indonesia terjadi akibat beberapa hal seperti aspek geografis, ekonomi, sosiokultural seperti kelemahan dalam mendeteksi memutuskan tindakan merujuk dan keterlambatan dalam penanganan di keluarga.

"Kami berharap dengan pelaksanaan seminar ini memberikan pengetahuan tentang aplikasi teknologi informasi.asi dan komunikasi dalam masalah kesehatan," tandas dia.

Seminar sendiri diikuti sekitar 130 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari dua jurusan yakni Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Ilmu Komputer UAA.

"UAA juga berharap mampu sharing informasi dan pengetahuan tentang peran penyedia layanan kesehatan dan mendiseminasikan hasil penelitian akademisi terkait pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di bidang kesehatan," tambah Hamam Hadi.


(Gading Persada /CN33/SM Network)