• KANAL BERITA

Program Pencegahan Penyakit Kaki Gajah Sasar 714.690 Penduduk

MINUM OBAT: Sejumlah petugas puskesmas mengawasi sejumlah warga dan anak-anak yang akan meminum obat pencegahan penyakit kaki gajah di salah satu desa di wilayah Kecamatan Kepil, Wonosobo. (suaramerdeka.com/ M Abdul Rohman)
MINUM OBAT: Sejumlah petugas puskesmas mengawasi sejumlah warga dan anak-anak yang akan meminum obat pencegahan penyakit kaki gajah di salah satu desa di wilayah Kecamatan Kepil, Wonosobo. (suaramerdeka.com/ M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo menyasar sebanyak 714.690 penduduk, dalam program pemberian obat pencegahan massal kaki gajah selama Oktober 2018. Pemberian obat pencegahan secara massal tersebut dilakukan, guna memberantas penyakit kaki gajah di wilayah Wonosobo.

Beberapa penyakit menular tropik terabaikan menjadi prioritas dituntaskan 2020, antara lain penyakit kaki gajah, kecacingan dan kusta.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan menyebutkan, dari sebanyak 714.690 penduduk yang menjadi sasaran program, sebanyak 45.202 penduduk berasal dari usia 2-5 tahun.

Kemudian, sasaran untuk anak usia sekolah antara 6-14 tahun sebanyak 119.687 anak. Sedangkan sisanya sebanyak 549.801 penduduk berasal dari usia antara 15-70 tahun.

Menurutnya, kegiatan pecanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) di Wonosobo telah dilakukan sejak 2017. Terdapat beberapa penyakit menular tropik terabaikan menjadi prioritas untuk dituntaskan pada 2020, antara lain penyakit kaki gajah, kecacingan dan kusta.

Program eliminasi kaki gajah atau filariasis, merupakan salah satu program prioritas nasional pemberantasan penyakit menular.

Dalam sebuah kesempatan, Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo Junaedi menyebutkan, program eliminasi filariasis memang direncanakan akan terus digalakkan sampai dengan 2020 atas dasar justifikasi.

Pencegahan di daerah endemis dengan angka lebih besar dari 1 persen, dilakukan melalui program pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) setahun sekali. Pemberian obat memang dilakukan selama minimal lima tahun berturut-turut. Tidak boleh terputus.

Penyebaran kasus dengan manifestasi kronis filariasis di 401 kabupaten/kota dapat dicegah dan dibatasi dampak kecacatannnya dengan penatalaksanaan kasus klinis. Pemberian obat minimal sebanyak 85 persen dari penduduk berisiko tertular filariasis di daerah yang teridentifikasi endemis filariasis harus mendapat POPM filariasis.

Junaedi menyebutkan, Wonosobo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah, sebagai kabupaten endemis filariasis. Wonosobo ditetapkan sebagai daerah endemis filariasis, karena sesuai hasil survei darah jari pada tahun 2010 di Desa Kaliwuluh dan Pulosaren Kecamatan Kepil, angka mikrofilaria rate (mf rate) sebesar 2 persen.

Padahal batas angka mf rate kurang 1 persen. Secara komulatif penyakit filariasis di Wonosobo sejak 2005-2018 sebanyak 16 orang.

Penderita penyakit kaki gajah tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Kepil ada tujuh orang, Selomerto ada 3 orang, Wadaslintang ada 2 orang, Kaliwiro, Garung, Kalibawang dan Kertek masing-masing satu orang.

Untuk menghentikan proses penularan dan mengeliminasi penyakit kaki gajah dari wilayah Wonosobo, perlu dilaksanakan gerakan Belkaga dengan pemberian obat massal pencegahan kepada semua penduduk usia 2-70 tahun.

Pemberian obat tersebut memang harus diberikan setiap tahun sekali selama lima tahun berturut-turut, tujuannya agar penyakit kaki gajah tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat di Wonosobo pada 2020. Sedangkan tujuan khusus, bisa menurunkan angka microfilaria menjadi kurang dari 1 persen dan mencegah serta membatasi kecacatan karena penyakit kaki gajah.


(M Abdul Rohman/CN33/SM Network)