• KANAL BERITA

Periksa Tekanan Darah di Klinik Kecil Kampung Tensi

PERIKSA TENSI: Sejumlah warga memeriksa tensi di klinik kecil Kampung Tensi di RT 12 RW 9, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Selasa (25/9). (suaramerdeka.com/ Diaz A Abidin)
PERIKSA TENSI: Sejumlah warga memeriksa tensi di klinik kecil Kampung Tensi di RT 12 RW 9, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Selasa (25/9). (suaramerdeka.com/ Diaz A Abidin)

Tensi dirasa menjadi permasalahan kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Utamanya bagi usia dewasa dan lanjut. Bermula dari keresahan itu, Kampung Tensi dibentuk dan mencoba membuat fasilitas klinik kecil. Setiap warga dapat memeriksa tensi, tanpa harus ke puskesmas.

SEBUAH rumah milik Susmanto (47) dengan ukuran halaman sekira 8x3 meter dimanfaatkan menjadi klinik. Tiga buah meja diletakkan di depan. Lengkap dengan peralatan memeriksa tekanan darah yakni tensimeter dan stetoskop, Selasa (25/9).

Lima perempuan siap sedia di kursi. Masing-masing bernama Nunuk, Eni, Watik, Fitriah, dan Rini. Kelima petugas pemeriksa itu sedang menunggu warga. Tentu dengan keperluan hendak memeriksa tekanan darah. Seorang ibu pun datang memeriksakan tekanan darah.

“Tekanan darah ibu normal. Alhamdulillah sehat,” kata seorang petugas pemeriksa, sembari melepaskan alat yang melingkar di lengan pasiennya.

Begitulah praktik sederhana yang dilakukan warga RT 12 RW 9, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang. Kampung Tensi dibuat agar warga sadar dan lebih memerhatikan kesehatanya tentang tekanan darahnya.

“Dengan begitu, warga tidak menunggu tensinya tinggi kemudian pergi ke puskesmas yang letaknya lebih jauh. Ada klinik kecil di sini. Saya kira warga akan lebih sering memeriksakan tekanan darahnya,” kata Ibu Ketua RT 12, Suharti.

Ide membuat tensi, dimulai pada Agustus 2017. Sifatnya keliling dari rumah ke rumah. Misalnya saat kegiatan PKK setempat.

“Sekarang sudah dibuat klinik kecil sejak sebulan lalu. Kegiatan pemeriksaan dibuka pada Kkamis dan Jumat untuk melayani warga. Misalnya ada warga tensinya tinggi, klinik ini bisa membuat rujukan untuk pemeriksaan kesehatan selanjutnya. Misalnya di RS,” terangnya.

Sementara petugas pemeriksa bukanlah seorang dokter atau perawat. Namun begitu, meraka sudah mendapatkan pelatihan pemeriksaan tensi oleh petugas kesehatan dari puskesmas setempat. Petugas yang merupakan warga setempat akan mengampanyekan peduli kesehatan terhadap warga lain.

Adapun Susmanto menyatakan, ide dan pembuatan Kampung Tensi berasal dari warga sendiri. Begitupun biaya yang ada silakukan swadaya oleh masyarakat. “Asal ini untuk kebaikan, kenapa tidak dilakukan,” katanya.

Tanaman Tensi

Kampung Tensi juga dilengkapi dengan tanaman-tanaman untuk obat untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Di antaranya mengkudu, rosela, blimbing wuluh, kumis kucing, buah sirsak, daun kelor, daun seledri. Yang lainnya adalah tanaman toga, dan sayur-sayuran yang ditanam secara organik.

Ketua Kelompok Tani Legok Sari Makmur, Sukristiono (45) mengatakan pihaknya bersama warga sedang mengembangkan tanaman tersebut untuk bibit yang bisa dimanfaatkan banyak orang. Apalagi untuk membantu program ketahanan pangan oleh pemerintah.

“Ada peralatan kesehatan, dan tanaman. Beberapa tanaman merupakan saluran dari Dinas Pertanian. Karena kami juga kelompo tani binaan. Masalahnya perawatan, dan pengembangan bibit tentu butuh dana. Ke depan karena ingin mengembangkan banyak tanaman tensi kami butuh sarana prasarana. Sementara ini kami kekurangan itu untuk alat pengangkut,” katanya.  

Lebih jauh, masyarakat setempat memiliki lahan yang kecil. Hanya halaman rumah. Namun begitu memanfaatkan tanaman polybag  adalah salah satu cara menciptakan ketahanan pangan dimulai dari skala rumah tangga.

“Kita ciptakan ketahanan pangan dati ibu ibu rumah tangga. Setelah pembibitan, tanaman ini kita salurkan ke seluruh warga untuk ditanam. Harapan kami, untuk permasalahan pembibitan Kota Semarang tidak tergantung lagi dari daerah lain seperti Bandungan, Kabupaten Semarang,” jelasnya.


(Diaz Abidin/CN33/SM Network)