• KANAL BERITA

Kesadaran Pasangan Muda Perihal Kesuburan Meningkat

Foto: suaramerdeka.com/ Benny Benke
Foto: suaramerdeka.com/ Benny Benke

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kesadaran pasangan muda rumah tangga untuk memeriksakan dan mendapatkan informasi tentang program fertilitas atau kesuburannya, demi mendapatkan keturunan atau momongan, dewasa ini sudah semakin tinggi.

Konsultasi oleh pasangan di bawah 35 tahun ke bawah, sebagaimana dijelaskan Prof Soegiharto Soebijanto, Spog (K)9 dari Morula IVF Indonesia, sudah menjadi kelaziman.

"Kesadaran pasangan muda untuk melakukan konsuler untuk mendapatkan keturunan atau momongan saat ini sudah jauh bergeser ke pasangan muda. Bahkan ada pasangan di bawah usia 30 tahun, yang memeriksakan kesuburan mereka, meski usia perkawinan mereka baru memasuki tahun ke dua," kata Prof Soegiharto Soebijanto, Spog (K) dalam Fertility Science Week di Atrium Mall Central Park, Jakarta, Kamis (6/9).

Dia menambahkan, kecenderungan ini berbanding terbalik dengan keadaan di masa sepuluh tahun lalu. Di mana pasangan rumah tangga baru mendatangi dokter kandungan, atau lebih spesifik embriologist atau ahli embrio untuk memeriksakan kesuburan mereka, di atas usia 40 tahun. Atau saat usia perkawinan mereka sudah lebih dari lima tahun.

"Padahal faktor usia di luar gaya hidup, memegang peranan penting untuk mendapatkan keturunan. Meski selama 'pabriknya bagus' Insya Allah, keturunan tetap bisa didapatkan. Meski untuk itu banyak faktor pendukungnya, " kata dia.

Berdasarkan makin banyaknya pasangan yang belum dikaruniai keturunan inilah, Klinik Morula IVF Indonesia, salah satu group Bundamedik Healtcare System klinik bayi tabung terbesar di Indonesia dan telah memasuki usia 20 tahun, menyelenggarakan event selama empat hari dari tanggal 6-9 September 2018.

Via Fertility Science Week, dengan tema A Journey of Making Dreams Come True, itulah mereka berharap kesadaran publik ihwal kesehatan fertilitas meningkat.

Sebelumnya dijelaskan Dr. Ivan Rizal Sini, Sp.OG, President Morula IVF, ahli kandungan dan penggagas event Fertility Science Week 2018, Morula  IVF Indonesia diadaku sebagai Tiga Besar klinik bayi tabung terbesar di Asia Tenggara.

Morula IVF Indonesia mempunyai 3.600 siklus program bayi tabung atau tersibuk di Indonesia. Di Vietnam ada klinik yang mencapai 7.000 siklus, di China program bayi tabung lebih besar lagi.

Dia menambahkan, meski biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti program bayi tabung di kliniknya relatif tidak murah. Tapi pihaknya tidak berani menjanjikan keberhasilan 100 persen.

"Kita tidak bisa menjanjikan keberhasilan, karena angka keberhasilan kehamilan kami 40 - 50 persen. Itu sudah melampui batas terendah sebesar 35 persen untuk ukuran internasional. Tapi kalau diulang ulang programnya, keberhasilannya bisa mencapai angka 50-75 persen," imbuh dia.

Profesor Arif Boediyono, PhD, salah satu dari sedikit embriologist atau ahli embrio di Indonesia, juga menyayangkan anggapan yang mengatakan program bayi tabung terlanjur dicitrakan mahal oleh masyarakat.

"Padahal kasus penyebab ketidaksuburan datang dari duabelah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, dan penyebabnya banyak sekali faktornya," katanya di kesempatan berbeda.

Dia menambahkan, proses bayi tabung adalah proses paling ujung, setelah beberapa proses di depannya seperti inseminasi. "Yang pasti kita bekerjasama dengam Urolog, dan melibatkan teknologi terkini bayi tabung."


(Benny Benke/CN33/SM Network)