Teater Muara Pentaskan 'Gogrog'

- Selasa, 23 April 2019 | 12:51 WIB
 Para pendukung sandiwara Gogrog saat latihan sebelum pentas di Pendhapa Art Space Ring Road Selatan. (Foto : suaramerdeka.com/Sugiarto)
 Para pendukung sandiwara Gogrog saat latihan sebelum pentas di Pendhapa Art Space Ring Road Selatan. (Foto : suaramerdeka.com/Sugiarto)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Peringatan Hari Kartini yang biasanya dimeriahkan dengan gegap gempita, kali ini rasanya tenggelam dengan hiruk-pikuk pesta demokrasi yang baru saja dilaksanakan pada 17 April 2019 lalu. Sehingga sosok RA Kartini yang berjuang mengangkat harkat kaum perempuan gemanya tidak begitu terasa.

Untuk mengenang kembali perjuangan RA Kartini, Teater Muara Yogyakarta mencoba mementaskan sandiwara 'Gogrog' karya Indra Tranggono yang akan dipentaskan di Pendhapa Art Space Ring Road Selatan, Bantul, Minggu (28/4) pukul 19.30 WIB. 

Meski pementasan sandiwara ini, sama sekali tidak ada kaitannya dengan peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2019 lalu. Namun bila disimak dari cerita yang ditawarkan, sepertinya banyak menceritakan tentang keadilan yang menimpa kaum perempuan. 

Menurut sutradara sandiwara 'Gogrog', Luwi Darto, pementasan berdurasi sekitar 90 menit ini mengisahkan isu ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan. Ceritanya berlatar belakang kasus hukuman mati yang dihadapi tenaga kerja wanita (TKW).
 
Sanwiara ini sengaja digarap dengan gaya tragedi-komedi satire, 'Gogrog' yang menyodorkan renungan dan hiburan untuk khalayak. Pergelaran didukung Dinas Kebudayaan DIY dan Pendhapa Art Space ini untuk umum dan gratis.
 
Untuk mementaskan naskah ini dipersiapkan sekitar tiga bulan, 'Gogrog' sebelumnya pernah digelar dalam bentuk dramatic reading (20/3) di Yogyakarta. Publik penonton memberikan sambutan hangat.
 
Indra Tranggono, supervisor pementasan ini mengatakan, naskah 'Gogrog' ditulis dengan semangat keprihatian atas nasib kaum perempuan yang terpinggirkan oleh ketidakadilan struktural dan sosial-ekonomik. Khususnya para TKW yang harus mempertaruhkan kehormatan dan nyawanya demi mengubah nasib.

''Ada tokoh Lastri, seorang TKW yang diperkosa oleh majikannya. Demi mempertahankan kehormatannya, Lastri melawan hingga sang majikan terbunuh. Bukannya mendapatkan keadilan, namun Lastri justru dihukum mati,'' jelas Indra.

Dikatakan Indra, naskah ini ditulis dengan bahasa Jawa. Tujuannya, adalah memperkuat bahasa Jawa baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam ekspresi estetik. Selain itu, juga bertujuan mendekatkan bahasa Jawa bagi generasi milenial.

''Agar mereka yang berasal dari etnis Jawa semakin bangga menggunakan bahasa Jawa,'' ujarnya. Sementara bahasa Indonesia juga diguakan, namun hanya digunakan sekitar lima persen.

Sutradara Luwi Darto mengatakan 'Gogrog' digarap dengan konsep tragedi-komedi satire, di mana realisme menjadi basisnya. ''Ini lakon tragedi yang pada beberapa bagian memunculkan kegetiran. Sehingga penonton bisa merenung dan tertawa sekaligus,'' ujar sarjana teater lulusan ISI Yogyakarta itu.

'Gogrog', lanjut dia, didukung para pemain teater lintas generasai. Diantaranya, Khocil Birawa, Chandra Nilasari, Elyandra Widharta, Syam Chandra, Titik Suharto, Teteh Dayatami, Gita Gilang, Luwi Darto, Yan Jangkrik, Seteng Agus Yuniawan dan Nunung Rita En. 

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

X