Kesehatan Mata Anak Menghawatirkan, Banyak Orang Tua Tidak Tahu

- Senin, 22 April 2019 | 05:37 WIB
PERIKSA MATA: Seorang dokter dari Perdami Cabang Yogyakarta memeriksa kesehatan mata anak SD/MI dalam bakti sosial pemberian kacamata gratis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, Minggu (21/4). (suaramerdeka.com/Supriyanto)
PERIKSA MATA: Seorang dokter dari Perdami Cabang Yogyakarta memeriksa kesehatan mata anak SD/MI dalam bakti sosial pemberian kacamata gratis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, Minggu (21/4). (suaramerdeka.com/Supriyanto)

GOMBONG, suaramerdeka.com - Kesehatan mata anak-anak di Indonesia semakin mengkhawatirkan seiring dengan pola hidup dan kebiasaan menggunakan gawai yang sangat tinggi. Kebiasaan tersebut dapat memicu gangguan pada mata khususnya miopia alias rabun jauh.

Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Cabang Yogyakarta Prof Dr H Suhardjo Sp M SU menjelaskan, jumlah penderita miopia naik tajam terutama di Asia Timur seperti Korea, China, dan India. Bahkan di Singapura 80 % penduduknya mengalami miopia.

"Ini juga terjadi di Indonesia. Kita harus hati-hati jangan sampai  terlalu banyak menderita minus dengan cara mengedukasi kepada masyarakat bagaimana hidup sehat agar tidak minus," ujar Prof Suhardjo di sela-sela pemeriksaan mata anak SD/MI di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, Minggu (21/4).

Kegiatan pemeriksaan mata  dan pembagian kaca mata itu merupakan kerjasama antara Rumah Sakit PKU Gombong dengan Perdami Cabang Yogyakarta. Sebanyak 200 anak dari sejumlah SD/MI di Kebumen yang sebelumnya telah discreening mengikuti pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesial mata dari Perdami Cabang Yogyakarta.

Lebih lanjut, Prof Suhardjo menambahkan bahwa kegiatan itu untuk membantu pemerintah dalam deteksi dini kelainan mata pada anak. Kelainan mata pada anak SD rata-rata 3-5 %. Jadi jika satu SD terdapat 200 anak, kira-kira terdapat 10 anak yang memiliki masalah kesehatan mata.

"Yang merisaukan kita adalaj dari 10 anak itu, delapan di antaranya mereka tidak tahu memiliki problem pada mata,"  ujarnya.

Ketidaktahuan itu, imbuh Prof Suhardjo dikhawatirkan akan menganggu kinerja sekolahnya seperti tidak jelas melihat tulisan di papan tulis. Ujung-ujungnya nilai sekolah tidak baik karena kesulitan belajar.

"Program yang sudah berjalan 10 tahun ini sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat di daerah yang agak jauh dari pelayanan kesehatan mata," ujarnya.

Anggapan Keliru

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

Libur Akhir Tahun, Destinasi Wisata di Sleman Tetap Buka

Minggu, 28 November 2021 | 15:57 WIB

Tembakau Musim 2021 Masih Belum Menguntungkan Petani

Sabtu, 27 November 2021 | 21:49 WIB

Gebrak Bayi, Tradisi Berkah Si Buah Hati

Jumat, 26 November 2021 | 22:28 WIB
X