MUI Jateng Koreksi Regulasi Pemulasaraan Jenazah Covid

- Kamis, 19 Agustus 2021 | 19:59 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr Abdul Hakam. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr Abdul Hakam. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng menyampaikan koreksi regulasi pemulasaraan jenazah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/4834/2021 Tentang Protokol Penatalaksanaan Pemulasaraan dan Pemakaman Jenazah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

"Keputusan menteri tersebut sebaiknya dikoreksi karena tidak sesuai dengan fiqih perawatan jenazah," kata Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Dr KH Fadlolan Musyaffa Lc MA, kemarin.

Dia mengatakan hal itu dalam rapat gabungan Komisi Fatwa dan Komisi Kesehatan & Kesejahteraan Umat MUI Jateng di auditorium Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang.

Selain Kiai Fadlolan, rapat dihadiri Ketua Komisi Kesehatan & Kesejahteraan Umat dr H Masyhudi AM M.Kes, Ketua Umum Dr KH Ahmad Darodji MSi, Sekretaris Umum Drs KH Muhyiddin MAg, Wakil Ketua Umum Prof Dr H Ahmad Rofiq MA dan para kiai anggota Komisi Fatwa.

Baca Juga: Pelatih Bocorkan Masa Depan Greysia Polli

Rapat diawali dengan paparan dr Said Shofwan SpAn FIPP FIPM tentang kajian ulang penggunaan plastik dan desinfektan di tubuh jenazah bagi jenazah Covid-19.

"Basis masalah pada jenazah non-Covid-19, plastik dan desinfektan tidak diperlukan baik untuk tujuan medis atau aspek fikih. Namun untuk jenazah Covid-19 diperlukan protokol khusus penggunaan plastik selain kafan dan desinfektan yang berimplikasi medis dan hukum fikih," kata dr Said yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang itu.

Ketua Komisi Fatwa Kiai Fadlolan Musyaffa mengatakan, dalam Keputusan Menkes huruf g disebutkan jenazah dimasukkan kedalam dua lapis plastik yang diikat erat
sebagai pembungkus jenazah.

"Jenazah dimasukan ke dalam lapis plastik pertama dan diikat erat, kemudian diberikan disinfektan dengan bahan klorin 0,5 persen. Dilakukan pemulasaraan jenazah sesuai dengan kaidah agama yang dianut jenazah (untuk muslim dimandikan dan dikafani). Jenazah dimasukan ke dalam lapis plastik kedua dan diikat erat kemudian diberikan disinfektan dengan bahan klorin 0,5 persen," kata Kiai Alumnus Al-Azhar Mesir itu.

Baca Juga: MotoGP Malaysia di Sepang Batal Digelar untuk kedua kalinya
 
Memakai APD Lengkap

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Pengurus Cabang IAKMI Se-Jateng Dilantik

Sabtu, 4 Februari 2023 | 15:45 WIB

Etika Digital dalam Bermedia Cegah Turbulensi Politik

Kamis, 2 Februari 2023 | 20:48 WIB
X