Terima Remisi, 4 Napi Lapas Narkotika Yogyakarta Langsung Bebas

- Rabu, 18 Agustus 2021 | 15:30 WIB
Ilustrasi borgol. (Pixabay/qimono)
Ilustrasi borgol. (Pixabay/qimono)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Sebanyak 250 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Yogyakarta mendapat remisi dalam rangka peringatan HUT Ke-76 RI.

Empat diantaranya langsung bebas setelah memperoleh pengurangan masa hukuman.

"Pada peringatan kemerdekaan RI tahun ini ada 250 warga binaan di tempat kami yang menerima remisi. Rinciannya, 239 napi mendapat remisi umum, 4 orang langsung bebas dan 7 lainnya masih melanjutkan menjalani pidana penjara pengganti denda," kata Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta Cahyo Dewanto disela penyerahan remisi secara simbolis oleh Bupati Sleman di Aula Setda, Selasa, 17 Agustus 2021.

Dia menjelaskan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi narapidana untuk memperoleh remisi.

Baca Juga: Huawei Siapkan Rancangan Chipset, Optimistis Geser Kembali Posisi Apple dan Samsung

Persyaratan itu mencakup administrasi dan substansi seperti contohnya berkelakuan baik.

Ketentuan mengenai pemberian remisi ini diatur dalam beberapa regulasi diantaranya UU Nomor Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, dan Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018.

Selain napi Lapas Narkotika, pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan remisi bagi warga binaan Lapas Kelas II B Sleman atau Lapas Cebongan.

Menurut Kepala Lapas Cebongan, Kusnan, penghuni lapasnya saat ini mencapai 276 orang. Warga binaan yang diusulkan mendapatkan remisi sejumlah 164 orang.

Baca Juga: Percepatan di Jateng, BIN Gelar Vaksinasi Massal Pelajar dan Masyarakat Door to Door

"Yang disetujui sebanyak 156 napi menerima remisi umum I, dan 9 orang remisi umum. Dua orang langsung bebas, serta 6 orang menjalani asimilasi di rumah, 3 napi masih ada didalam lapas," rincinya.

Jadi dengan menerima remisi, 3 orang dan 6 orang yang menjalani asimilasi di rumah secara otomatis bebas.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo berpesan agar remisi tidak hanya dimaknai sebagai pemberian hak warga binaan pemasyarakatan.

Namun juga wujud apresiasi negara terhadap warga binaan yang telah berhasil menunjukan perubahan perilaku, dan meningkatkan kompetensi diri.

Baca Juga: Pandemi Membawa Indonesia ke Masa Depan Lebih Cepat, Dirjen Pajak: Lebih Adaptif Hadapi Dinamika Zaman

"Tolak ukur pemberian remisi tidak dilihat pelanggaran hukum yang dilakukan. Tapi didasarkan pada perilaku warga binaan selama menjalani hukuman," cetusnya.

Kustini menilai, pemberian remisi bukanlah suatu bentuk kemudahan bagi para napi untuk cepat memperoleh kebebasan.

Namun remisi merupakan suatu instrumen untuk mendorong motivasi diri sehingga warga binaan mempunyai kesempatan, dan siap beradaptasi untuk kembali ke lingkungan masyarakat.

Halaman:
1
2

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X