Sirine EWS Berbunyi, Warga Jojogan Panik

- Sabtu, 1 Desember 2018 | 03:34 WIB
KAMPUNG JOJOGAN : Suasana Kampung Jojogan, Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Brebes. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras Tribowo)
KAMPUNG JOJOGAN : Suasana Kampung Jojogan, Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Brebes. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras Tribowo)

BUMIAYU, suaramerdeka.com - Hujan lebat pada Kamis (29/11) malam memicu pergerakan tanah di Kampung Jojogan, Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Brebes. Meski tidak menimbulkan kerusakan, namun warga panik lantaran suara alarm atau sirine dari alat early warning system (EWS).

Kampung Jojogan merupakan salah satu pedukuhan di Desa Pasir panjang yang rawan terdampak longsor perbukitan Lio. Terakhir kali, longsor terjadi pada Februari lalu mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan lima orang hilang.

Sekretaris Desa Pasirpanjang Arie Sumiarsa menjelaskan pergerakan tanah diawali hujan lebat pukul 19.00 sampai 22.30. Pada sekitar pukul 21.05, warga mendengar suara sirine EWS. Suara yang sama kembali terdengar pada pukul 22.15.

Suara sirine pertama berasal dari EWS yang terpasang di Kampung Cibuhun. Yang kedua berasal dari EWS di Kampung Jojogan. "EWS yang pertama bunyi itu mendeteksi curah hujan tinggi. Sedangkan yang kedua, mendeteksi adanya pergerakan tanah," katanya.

Diakui Arie, bunyi sirene EWS membuat warga Kampung Jojogan panik. Namun begitu, kepanikan tidak berlangsung lama. "Tidak sampai mengungsi. Tapi warga meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Menurut Arie, pergerakan tanah bukit berada di atas permukiman warga. Tanah di bukit retak dan ambles sepanjang 10 meter dan lebar 30 sentimeter. Ketinggian bukit sendiri 7 meter dan panjang 50 meter. Retakan tanah pada bukit tersebut dikhawatirkan memicu longsor."Sedikitnya ada 7 rumah warga yang terdampak langsung jika bukit di atasnya longsor," kata dia.

Kepala Desa Pasirpanjang Toro meminta warga ronda atau malam. Saat ini ada empat unit EWS terpasang. Dua pendeteksi pergerakan tanah dan dua pendeteksi curah hujan tersebut dipasang di tiga lokasi.

Yakni di puncak Lio, blok Labuhan Batu dua unit, masing-masing pendeteksi curah hujan dan pergerakan tanah. Satu unit EWS curah hujan di Kampung Cibuhun dan terakhir EWS pergerakan tanah di Kampung Jojogan. Seluruh alat tersebut di pasang oleh mahasiswa UGM dan berada di bawah kendali BPBD Kabupaten Brebes dan Provinsi Jateng.

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

PKS: Kitab Kuning Pondasi Pembangunan Peradaban

Senin, 6 Desember 2021 | 12:03 WIB

Komunitas Save Pekalongan Bantu Warga Terdampak Rob

Senin, 6 Desember 2021 | 09:12 WIB

Gading Paradise, Hadirkan Miniatur Eropa di Kebumen

Minggu, 5 Desember 2021 | 11:14 WIB

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB
X