Hanya Sepuluh Persen dari 600 KPH Berfungsi

- Senin, 24 September 2018 | 14:08 WIB
Foto: Greeners
Foto: Greeners

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dari sekitar 600 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Indonesia, hanya sekitar 10 persen yang dapat berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sumber dana, dan fasilitas pendukung. Sehingga yang lain terkesan diam, karena tidak tau apa yang akan dilakukan.

Rektor Instiper Purwadi mengatakan itu pada acara Malam Rimbawan KPH di Gasebo Belakang Grha Instiper Yogyakarta, Minggu (23/9). Hadir 130 orang dari KPH dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari seluruh Indonesia, untuk membahas pelestarian hutan.

Sebab, lanjut rektor, hutan memiliki arti penting dalam kehidupan manusia karena memiliki fungsi ekologi, sosial, dan ekonomis. Ketiga fungsi tersebut, harus berjalan seimbang sehingga kelestarian hutan dapat terus terjaga. Maka untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang sudah mulai kritis, dibangunlah KPH.

Menurut Purwadi, KPH itu memiliki value tanpa batas. Semua tersedia di KPH dan memiliki kekhasan. Sebab, kata dia, KPH bisa menghasilkan apa saja dengan kue tanpa batas yang dimilikinya. ''Dengan kreativitas, harusnya KPH bisa menjadi sumber kemakmuran baru,'' katanya.

Semua hasil produksi hutan itu, bersifat khas dan bersifat lokal spesifik. Madu hutan, misalnya, tentu hasilnya akan beda antara madu yang dihasilkan di hutan Kalimantan dibanding dengan madu yang dihasilkan dari hutan Papua. ''Nilai spesial inilah yang dapat meningkatkan nilai produk yang dihasilkan,'' katanya.

Menurut Purwadi, apabila bisa menghasilkan seperti itu maka semua pemangku, pelaku, dan masyarakat di sekitar KPH dapat menikmati hasilnya. ''Dengan demikian, isu sustainability dapat teratasi dan tidak akan ada lagi masyarakat miskin di sekitar hutan yang kaya sumber daya,'' ujarnya.

 

Editor: Linda

Tags

Terkini

Disporapar Genjot Kemajuan Sektor Pariwisata

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:21 WIB
X