Bupati : Apabila Menemukan Perburuan Satwa Liar segera Lapor

- Jumat, 21 September 2018 | 01:41 WIB
foto: istimewa
foto: istimewa

KAJEN, suaramerdeka.com - Pegiat Peduli Owa Petungkriyono mengendus adanya praktik perburuan liar di kawasan hutan lindung Petungkriyono sejak dua bulan terakhir ini. Pemburu bukan sekedar memburu binatang dan burung yang tak dilindungi, namun satwa langka endemik Petungkriyono yang dilindungi pun menjadi sasarannya. 

"Sekitar dua bulan terakhir ini agak ramai orang-orang membawa senjata. Satwa yang dilindungi juga jadi incarannya, seperti kidang, kalong, dan lutung," terang dia Pegiat Peduli Owa Petungkriyono, Wawan, kepada wartawan yang bertugas di Kota Santri, Kamis (20/9).

Menurutnya, Praktik perburuan liar bisa mengancam kelestarian satwa endemik di kawasan hutan lindung Petungkriyono di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa ini menyimpan kekayaan satwa langka dan dilindungi, di antaranya owa jawa, lutung, surili, macan, dan sebagainya.

Dikatakan, satwa langka di dunia owa Jawa disinyalir juga tak luput dari incaran para pemburu liar tersebut. Namun, untuk owa Jawa masih dilakukan secara tertutup, dan diduga melibatkan sindikat. "Untuk owa kami menelusuri grup jual beli yang ada. Untuk owa memang tidak terang-terangan. Namun indikasinya sudah ada perdagangan gelap owa dan seperti sindikat," ujar Wawan.

Ia juga mendapatkan laporan dari warga sekitar hutan jika pernah ada warga yang mendapat pesanan owa. "Ada yang pernah dapat anaknya, dan induknya ditembak. Kita cek grup-grup jual beli memang ada sellernya. Kalau owa Jawa pasti dari Jawa Tengah, Jateng darimana pasti dari Petungkriyono. Namun untuk masuknya dari Petungkriyono atau daerah lain belum tahu," terang dia.

Diterangkan, populasi owa Jawa di kawasan hutan lindung Petungkriyono hanya sekitar 51 ekor hingga 71 ekor. Untuk satwa jenis lutung, pihaknya belum memiliki data lengkap. Namun, populasi lutung di kawasan hutan Sokokembang ada sekitar 25 kelompok, dimana satu kelompoknya terdiri atas 7 ekor hingga 15 ekor lutung.

Guna mengantisipasi maraknya perburuan liar tersebut, pihaknya melakukan penguatan masyarakat desa hutan. Masyarakat yang menjumpai pemburu liar agar bisa mengingatkannya. 

Sebab, satwa-satwa langka dan endemik di Petungkriyono itu merupakan satu identitas, budaya, dan kekayaan yang luar biasa bagi Kabupaten Pekalongan."Pelan-pelan dari beberapa desa kita dorong ada peraturan desa tentang perlindungan satwa dilindungi. 

Hutan alam Petungkriyono yang luasannya sekitar 5 ribu hektare ini kaya akan satwa endemis dan langka, seperti owa, lutung, surili, kukang, macan tutul Jawa, burung elang Jawa, dan masih banyak lagi. Di Jateng paling tinggi endemiksitasnya di Petungkriyono ini. Seperti owa Jawa tertinggi di Jateng," imbuhnya.

Terpisah, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi ketika dikonfirmasi mengenai masalah tersebut mengatakan, Pemerintah Daerah sudah meminta kepada Adm Perhutani Pekalongan untuk memperketat dari prakti ilegal loging dan pemburuan satwa di hutan lindung Petungkriyono. 

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk bersama sama menjaga kawasan hutan lindung. Melalui pola kehutanan sosial masyarakat bisa bersinergi menjaga hutan. 

"Belum lama ini kami juga meluncurkan program Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) dimana basisnya adalah pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Sehubungan dengan pemburuan liar, apabila menemukan segera dilaporkan ke pihak berwajib agar bisa diproses," jelas bupati.

Apalagi, lanjut Bupati Asip Kholbihi, kawasan hutan lindung Petungkriyono telah ditetapkan sebagai National Herritage Culture. Semua flora fauna yang ada di dalam kawasan tersebut dilindungi. "Kekayaan hayati yang ada di Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan harus dijaga," tandas bupati.

Halaman:

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

X