Mikro Hidro Gerakkan Roda Kemandirian Energi Warga di Lereng Slamet (3-habis): Investasi Panjang EBT

- Rabu, 7 Desember 2022 | 21:53 WIB
Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Dusun Kalipondok Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memanfaatkan debit air Telaga Pucung sebagai sumber energi listrik. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Dusun Kalipondok Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memanfaatkan debit air Telaga Pucung sebagai sumber energi listrik. (suaramerdeka.com/Hartatik)

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah menyimpan potensi energi hingga 382,32 Mega Watt (MW). Salah satunya berada di Kabupaten Banyumas. Dengan kondisi geografis yang berada di lereng Gunung Slamet, Banyumas memiliki 1.681 mata air dan lima situ (telaga). Potensi aliran air dan telaga itu cukup baik, lantaran berada di kawasan hutan lindung sehingga ketersediaan airnya melimpah. Banyak aliran sungai mengalir di tebing-tebing curam.

Ditinjau dari aspek hidroklimatologi dan siklus air, wilayah Gunung Slamet merupakan daerah penangkap dan penyerap air hujan, serta sebagai sumber air dari beberapa daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir di sekitarnya.

Dinas Sumber Daya Energi dan Mineral (ESDM) Banyumas memetakan setidaknya ada tujuh daerah aliran sungai (DAS) yang berpotensi sebagai sumber tenaga listrik, yakni DAS Cihaur Hulu, DAS Tajum, DAS Logawa, DAS Pelus, DAS Serayu Hilir, DAS Ijo, dan DAS Tipar. Itu masih ditambah lagi dengan potensi terjunan air di tujuh air terjun lainnya yang tersebar di Kecamatan Baturraden, Kedungbanteng, dan Cilongok. Wilayah-wilayah ini berada di lereng Gunung Slamet dan memiliki banyak aliran sungai. Keberadaan mata air dan telaga yang berdebit tinggi itu digunakan sebagian masyarakat untuk keperluan energi listrik, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil dan jauh dari jaringan listrik PLN seperti di lereng Gunung Slamet.

“Kami sedang memasifkan pemanfaatan energi terbarukan di masyarakat perdesaan. Upaya ini merupakan salah satu langkah untuk menekan emisi karbon di Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko.

Dari total 8.000-an desa di Jawa Tengah, lanjutnya, saat ini ada sekitar 2.300 desa yang sudah mandiri energi. Pengembangan energi baru terbarukan dilakukan dengan pemberian bantuan di sejumlah kabupaten/kota, di antaranya pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Masyarakat setempat pun dapat menikmati energi ramah lingkungan secara murah, bahkan gratis selama 24 jam penuh.

Beli Listrik PLTMH

Manager Revenue Insurance dan Mekanisme Niaga, PLN UID Jawa Tengah dan DIY, Muhammad Hamzah, dalam webinar “Central Java Solar Day” mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai mampu mewujudkan target penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 21,32 persen pada 2025. Namun bukan berasal dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, melainkan bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

"Target Jawa Tengah untuk 21,32 persen ini bisa tercapai karena banyak didukung PLTMH," kata Hamzah.

Ia mengungkapkan, sejak 2016, pembelian listrik dari PLTMH terus mengalami peningkatan. Data 2016, pembelian listrik dari PLTMH itu sebesar 34 ribu Mega Watt hour (MWh). Angka ini melonjak signifikan pada 2020 sebesar 122,69 ribu MWh. Hamzah menuturkan, saat ini sudah ada 50 entitas PLTMH yang ingin menjual listrik kepada PLN. Namun dalam waktu dekat PLN hanya bisa membeli 4 entitas dengan daya 8 Mega Watt (MW).

PLTMH Terpasang di Provinsi Jawa Tengah pada 2021

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X