Tengah Puncak Musim Kemarau, Sejumlah Wilayah Cilacap Masih Diguyur Hujan

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 08:48 WIB
Salah satu sudut di Cilacap usai diguyur hujan. (suaramerdeka.com / Teguh Hidayat Akbar)
Salah satu sudut di Cilacap usai diguyur hujan. (suaramerdeka.com / Teguh Hidayat Akbar)

CILACAP , suaramerdeka.com - Hujan masih mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap di tengah musim yang diperkirakan sudah memasuki puncak kemarau ini.

Di sekitaran Cilacap kota, hujan mengguyur pada Selasa (3/8) siang. Hujan juga mengguyur wilayah itu pada Senin (2/8) malam.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, secara klimatologis, wilayah Cilacap dan sekitarnya seharusnya diperkirakan telah memasuki puncak musim kemarau.

Namun demikian, kenyataannya di awal bulan Agustus ini hujan masih tetap turun.

Baca Juga: Hasil Seleksi CASN Kementerian PANRB Diumumkan, Anda Salah Satunya? Cek di Sini

"Dari pantauan kami, hujan di sekitar Cilacap masih turun dengan intensitas ringan hingga sedang. Tercatat tanggal 1 dan 2 Agustus 2021, intensitasnya 9 milimeter dan 15 milimeter," kata Teguh Wardoyo.

Pihaknya mengamati, hujan tidak hanya turun di sejumlah wilayah Cilacap, tetapi juga di kabupaten lain.

Menurut dia, ada lima hal yang menyebabkan adanya fenomena hujan di puncak musim kemarau ini.

Satu di antaranya, yakni adanya Dipole Mode Indek (DMI) yang bernilai negatif 0,76.

Baca Juga: PPKM Diperpanjang Lagi, Anggota Komisi IX DPR Nilai Keputusan Sangat Bijaksana

DMI itu merupakan fenomena interaksi laut–atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dengan pantai barat Sumatera.

Jika DMI positif umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan DMI negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

"Nilai DMI  negatif 0,76 ini mengakibatkan adanya aliran udara lembab dari Samudera Hindia, sehingga suplai uap air dari wilayah Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat signifikan sehingga curah hujan meningkat," jelas dia.

Baca Juga: 10 Kecamatan Blora Masuk Zona Oranye, Vaksinasi Warga Digas

Faktor lain yang menyebabkan adanya hujan di puncak kemarau ini adanya anomali suhu permukaan air laut di Samudera Hindia selatan Jawa.

Menurutnya, hal itu juga berkontribusi meningkatkan penguapan dan potensi hujan di wilayah Cilacap hingga Jateng dan sekitarnya.

"Adanya Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di di Aceh, Jawa dan Papua bagian selatan dan Tipe Low atau tekanan rendah yang saat ini aktif di Lampung, Pesisir Utara Jawa dan Kalimantan bagian selatan juga menjadi penyebab lainnya," kata dia.

Ditambah lagi, dari faktor lokal terdapat kelembaban yang cukup tinggi sehingga menjadi faktor pendukung terhadap potensi pembentukan awan hujan.

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka diperkirakan dua hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan," kata dia.

Halaman:
1
2

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gelar Haul Gus Dur, PKB dan NU Cilacap Berkolaborasi

Kamis, 13 Januari 2022 | 11:48 WIB
X