Tengah Puncak Musim Kemarau, Sejumlah Wilayah Cilacap Masih Diguyur Hujan

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 08:48 WIB
Salah satu sudut di Cilacap usai diguyur hujan. (suaramerdeka.com / Teguh Hidayat Akbar)
Salah satu sudut di Cilacap usai diguyur hujan. (suaramerdeka.com / Teguh Hidayat Akbar)

DMI itu merupakan fenomena interaksi laut–atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dengan pantai barat Sumatera.

Jika DMI positif umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan DMI negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

"Nilai DMI  negatif 0,76 ini mengakibatkan adanya aliran udara lembab dari Samudera Hindia, sehingga suplai uap air dari wilayah Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat signifikan sehingga curah hujan meningkat," jelas dia.

Baca Juga: 10 Kecamatan Blora Masuk Zona Oranye, Vaksinasi Warga Digas

Faktor lain yang menyebabkan adanya hujan di puncak kemarau ini adanya anomali suhu permukaan air laut di Samudera Hindia selatan Jawa.

Menurutnya, hal itu juga berkontribusi meningkatkan penguapan dan potensi hujan di wilayah Cilacap hingga Jateng dan sekitarnya.

"Adanya Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di di Aceh, Jawa dan Papua bagian selatan dan Tipe Low atau tekanan rendah yang saat ini aktif di Lampung, Pesisir Utara Jawa dan Kalimantan bagian selatan juga menjadi penyebab lainnya," kata dia.

Ditambah lagi, dari faktor lokal terdapat kelembaban yang cukup tinggi sehingga menjadi faktor pendukung terhadap potensi pembentukan awan hujan.

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka diperkirakan dua hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan," kata dia.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pesta Miras di Cepu Memakan Korban, 5 Orang Tewas

Kamis, 20 Januari 2022 | 08:48 WIB
X