Menjaga Ketahanan Pangan Selama Pandemi, Warga Tanam Sayuran Organik

- Senin, 2 Agustus 2021 | 20:47 WIB
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek Asri Borokulon, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo panen tanaman sayur di lahan demplot setempat. (foto: Suaramerdeka.Com/Aris Himawan)
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek Asri Borokulon, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo panen tanaman sayur di lahan demplot setempat. (foto: Suaramerdeka.Com/Aris Himawan)

PURWOREJO, suaramerdeka.com - Warga di Perumahan Pepabri Kelurahan Borokulon, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo mempunyai cara tersendiri untuk bertahan selama pandemi Covid-19.

Mereka memfaatkan lahan yang sempit dengan cara menanam sayuran dengan menggunakan polibag dan membuat lahan demplot sayuran.

Polybag dan demplot tanaman tersebut berisikan berbagai macam tanaman sayur mulai dari tomat, cabai, selada, kangkung dan jenis lainnya.

Baca Juga: Jokowi Hubungi Greysia/Apriyani Lewa Video Call, 'Saya Tunggu Nanti di Istana'

Penanaman tersebut merupakan inovasi yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) "Anggrek Asri" sejak 6 bulan lalu.

Ketua KWT "Anggrek Asri" Borokulon, Choirunnisa mengaku mendapat banyak manfaat dengan menanam sayuran di pekarangan rumah.

Menurut Nisa dengan menanam sayuran sendiri di pekarangan rumah membantu ekonomi keluarga di masa pandemi. Saat ini Ia tidak perlu lagi membeli bahan-bahan dapur seperti cabai, tomat dan sayur.

"Sangat bermanfaat untuk meningkatkan gizi keluarga. Kemudian membantu ekonomi keluarga, sekarang ga perlu repot beli sayuran lagi. Kalau mau bikin sambel tinggal petik, kalau mau masak sayur, sayurnya juga tinggal petik," kata Nisa saat ditemui Suaramerdeka.Com, Senin (2/8).

Nisa menjelaskan, program pemfaatan pekarangan di RW 05 Kelurahan Borokulon ini dinilai sukses saat menghadapi pandemi Covid-19 sehingga mendapat perhatian dari pemerintah.

Untuk mendukung program tersebut mendapat bantuan dari pemerintah pusat senilai Rp. 50 juta. Dengan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Program tersebut dimulai sejak bulan Maret 2021 dengan target pendampingan budidaya selama 1 tahun dan pemantauan hingga 2024.

"Sebelum adanya program P2L dirinya bersama dengan beberapa ibu-ibu sudah melakukan kegiatan memanfaatkan minim lahan di perumahan dengan bercocok tanam sayuran secara hidroponik maupun organik," jelasnya.

Diungkapkan olehnya, setelah mengikuti P2L hasil dari penanaman sayuran lebih maksimal. Apalagi di masa pandemi seperti ini semangat ibu-ibu bertambah semangat. Hasil bercocok tanam ini bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual.

Baca Juga: IDI: Booster Vaksin Ideal Diberikan 6-12 Bulan setelah Suntikan Kedua

"Dalam satu bulan omset KWT jika masa panen bisa mencapai Rp. 1 juta hingga Rp 3 juta," ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Purworejo, Wasit Diono menyampaikan, P2L harus memenuhi 4 komponen, yaitu sarana pembibitan, demplot, pertanaman dan pasca panen.

"Pemerintah pusat memberikan bantuan senilai Rp. 50 juta untuk pengembangan program tersebut bagi tiap kelompok atau KWT, dengan syarat yang sudah ditentukan pastinya dan adanya pendampingan, bagi penerima bantuan di kawasan desa harus menyediakan lahan demplot 400 M2, sedangkan di perkotaan 100 M2 dan kebun bibit 20 M2, sedangkan untuk taman lestari bisa memanfaatkan halaman rumah masing-masing," ucapnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

X