Dari Arafura ke Juwana (1), Mengais Berkah dari Laut Seberang

- Rabu, 28 September 2022 | 12:48 WIB
Sejumlah pekerja menata ikan di sebuah pemindangan di Desa Bajomulyo, Juwana, baru-baru ini (suaramerdeka.com / Maratun Nashihah)
Sejumlah pekerja menata ikan di sebuah pemindangan di Desa Bajomulyo, Juwana, baru-baru ini (suaramerdeka.com / Maratun Nashihah)

TANGAN Pik tak henti menata ikan ke dalam keranjang. Selasa 30 Agustus 2022 sore itu tinggal dia dan empat rekannya yang masih sibuk bekerja di tempat pemindangan.

Tenaga borong yang lain telah pulang. Pik mengisi tiap kerancang bambu dengan empat ikan layang berukuran kecil.

Setelahnya keranjang diikat untuk kemudian dimasukkan ke tempat perebusan.

Pik telah 21 tahun menjadi tenaga borong di usaha pemindangan. Tuntutan hidup membuatnya mesti membanting tulang.

Baca Juga: Carlos Fortes Telah Kembali, Siap Jadi Andalan PSIS Semarang Lagi

Penghasilan suaminya yang buruh tambak garam, tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan.

Pada masa awal bekerja, Pik harus merelakan buah hatinya yang masih balita diasuh oleh sang nenek. Kini sang anak telah bekerja. Dia pun lebih leluasa.

"Kalau nggak kerja gimana bisa mencukupi kebutuhan, Dik. Kalau mengandalkan penghasilan suami yang cuma petani buruh garam, ya jelas tidak cukup. Suami nyuruh saya kerja,," katanya di sebuah tempat pemindangan di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Pati, Selasa 30 Agustus 2022.

Dinikahkan pada usia 16 tahun membuat Pik (42) tidak mempunyai banyak pilihan saat ingin bekerja.

Baca Juga: Bukan Ngarang, Gangguan Kecemasan Bisa Hilang Berkat Menanam Bunga Telang di Pekarangan, Kok Bisa?

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kikis Individualisme, Galakkan Nilai-Nilai Bung Karno

Jumat, 2 Desember 2022 | 20:15 WIB

Peduli Lingkungan, Raih Penghargaan SDGs Awards

Jumat, 2 Desember 2022 | 15:51 WIB
X