Purworejo Produksi Garam Krosok, Diyakini Bisa Mengusir Virus Corona

- Rabu, 28 Juli 2021 | 21:28 WIB
Bupati Purworejo RH Agus Bastian bersama sejumlah pejabat tinjau lokasi produksi garam krosok di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag. (suaramerdeka.com/Aris Himawan)
Bupati Purworejo RH Agus Bastian bersama sejumlah pejabat tinjau lokasi produksi garam krosok di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag. (suaramerdeka.com/Aris Himawan)

PURWOREJO, suaramerdeka.com - Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo mulai memproduksi garam krosok.

Produksi garam ini ditinjau oleh Bupati Purworejo RH Agus Bastian, Selasa 27 Juli 2021.

Turut serta dalam kunjungan tersebut Asisten Administrasi dan Kesra Drs Pram Prasetya Ahmad, Kepala DPPKP Wasit Diono serta Kabag Humas Protokol Rita Purnama.

Dalam kessmpatan itu, Bupati menyatakan jenis usaha yang tergolong baru ini perlu terus dikembangkan, mengingat Kabupaten Purworejo yang memiliki panjang pantai sekitar 22 km, sehingga sangat berpotensi menjadi daerah penghasil garam.

Baca Juga: Angkat Besi kembali Sumbang Medali, Rahmat Erwin Abdullah Raih Perunggu

“Apalagi ada informasi kalau garam organik atau yang sering disebut garam krokos ini bisa digunakan dengan cara tertentu untuk kesehatan, karena kandungan NaCl yang sangat tinggi mampu melepaskan virus yang menempel di organ tubuh,” katanya.

Secara terpisah Wasit Diono mengungkapkan, pembuatan garam dilakukan dengan memanfaatkan lahan bekas tambak udang, menggunakan sistem tunnel.

“Pengenalan produksi garam sistem tunnel, sudah dilakukan sejak tahun 2018 oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal bekerjasama dengan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil produksi garam sistem tunnel yang sudah pernah dilakukan sebagai percontohan, merupakan jenis garam organik pansela yang mempunyai kandungan NaCl 97,49 persen dan berwarna putih bersih.

Baca Juga: Pol Berharap Lebih Beruntung di Seri Berikutnya

“Itu merupakan hasil analisis Sucofindo - Semarang pada 3 Mei 2021, sehingga garam ini dapat dimasukkan sebagai garam industri,” jelasnya.

Dijelaskan, penggaraman sistem tunnel merupakan metode baru, yaitu model tertutup dengan lahan terasering.

Penerapan model tertutup bertujuan agar produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan.

Meski berada dalam ruang yang tertutup plastik, tetap ada panas sehingga proses kristalisasi dapat terjadi.

Baca Juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, PLN Demak Diap Salurkan Stimulus Listrik hingga Desember 2021

Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat agar air dapat mengalir kapan saja dengan gaya gravitasi.

“Sistem pembuatan garam ini adalah secara organik tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun serta ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga produk yang dihasilkan adalah garam organik,” jelasnya.

Dikatakan bahwa sampai pertengahan tahun 2021 ini, produksi garam terus meningkat dari 2,2 ton di bulan Januari, menjadi 3,1 ton pada bulan Mei. Produk yang dihasilkan berupa garam krosok dengan harga Rp. 2500/kg, Rp. 4000/kg dan Rp. 5000/kg.

“Pemasaran dilakukan dalam bentuk curah dan kemasan 200 gr , 1000 gram, 5000 gram maupun 25 kg. Produk garam ini digunakan untuk keperluan pupuk tanaman, suplemen pakan ternak, ikan dan udang, pengobatan, dan sebagainya,” kata Wasit.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X