Purworejo Produksi Garam Krosok, Diyakini Bisa Mengusir Virus Corona

- Rabu, 28 Juli 2021 | 21:28 WIB
Bupati Purworejo RH Agus Bastian bersama sejumlah pejabat tinjau lokasi produksi garam krosok di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag. (suaramerdeka.com/Aris Himawan)
Bupati Purworejo RH Agus Bastian bersama sejumlah pejabat tinjau lokasi produksi garam krosok di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag. (suaramerdeka.com/Aris Himawan)

“Itu merupakan hasil analisis Sucofindo - Semarang pada 3 Mei 2021, sehingga garam ini dapat dimasukkan sebagai garam industri,” jelasnya.

Dijelaskan, penggaraman sistem tunnel merupakan metode baru, yaitu model tertutup dengan lahan terasering.

Penerapan model tertutup bertujuan agar produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan.

Meski berada dalam ruang yang tertutup plastik, tetap ada panas sehingga proses kristalisasi dapat terjadi.

Baca Juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, PLN Demak Diap Salurkan Stimulus Listrik hingga Desember 2021

Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat agar air dapat mengalir kapan saja dengan gaya gravitasi.

“Sistem pembuatan garam ini adalah secara organik tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun serta ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga produk yang dihasilkan adalah garam organik,” jelasnya.

Dikatakan bahwa sampai pertengahan tahun 2021 ini, produksi garam terus meningkat dari 2,2 ton di bulan Januari, menjadi 3,1 ton pada bulan Mei. Produk yang dihasilkan berupa garam krosok dengan harga Rp. 2500/kg, Rp. 4000/kg dan Rp. 5000/kg.

“Pemasaran dilakukan dalam bentuk curah dan kemasan 200 gr , 1000 gram, 5000 gram maupun 25 kg. Produk garam ini digunakan untuk keperluan pupuk tanaman, suplemen pakan ternak, ikan dan udang, pengobatan, dan sebagainya,” kata Wasit.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X