BKKBN Jateng Fokuskan Percepatan Penurunan Angka Stunting

- Selasa, 20 September 2022 | 12:33 WIB
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Widwiono memberikan arahan pada kegiatan peringatan hari jadi ke-72 Provinsi Jateng melalui Internalisasi Pengasuhan Balita untuk Percepatan Penurunan Stunting di Hotel PO Semarang, Selasa 20 September 2022. (Eko Fataip)
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Widwiono memberikan arahan pada kegiatan peringatan hari jadi ke-72 Provinsi Jateng melalui Internalisasi Pengasuhan Balita untuk Percepatan Penurunan Stunting di Hotel PO Semarang, Selasa 20 September 2022. (Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng memfokuskan pada upaya penurunan angka Stunting.

Isu Stunting juga menjadi perhatian pemerintah pusat saat ini. Presiden memberikan arahan agar pemerintah daerah dan semua sektor terkait untuk berupaya mempercepat penurunan Stunting hingga 2024 mendatang.

"Angka Stunting di Jateng sudah dibawah angka nasional yakni 20,9 persen. Kami menargetkan menjadi 14 persen paling tidak pada 2023 atau setahun lebih cepat dari yang ditargetkan secara nasional," kata Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Widwiono.

Baca Juga: Cegah Stunting, BKKBN RI Sampaikan 3 Hal bagi Catin

Keterangan tersebut disampaikan Widwiono pada kegiatan peringatan hari jadi ke-72 Provinsi Jateng melalui Internalisasi Pengasuhan Balita untuk Percepatan Penurunan Stunting di Hotel PO Semarang, Selasa 20 September 2022.

Untuk diketahui, Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak, meliputi tinggi badan anak, baik lebih rendah atau pendek dari standar usianya. Kondisi itu dimungkinkan terjadi ketika anak tidak mendapatkan asupan gizi maksimal.

Adapun beberapa faktor yang menjadi sebab terjadinya Stunting diantaranya praktik pola asuh yang tidak baik, minimnya asupan makanan/gizi terhadap anak, terbatasnya layanan kesehatan hingga minimnya akses air bersih.

Baca Juga: Kepala BKKBN: Minuman Beralkohol Berpotensi Sebabkan Infertilitas, Bukan Air Galon

Berdasarkan data BKKBN Jateng, angka Stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Prevalensi Stunting berdasarkan data Riskesdas Tahun 2018 adalah 30,8 persen.

Kemudian berdasarkan Data Integrasi SSGBI dan Susenas Tahun 2019, prevalensi Stunting di Indonesia menurun menjadi 27,67 persen. Angka itu ditargetkan turun menjadi 14 persen pada 2024 mendatang.

Halaman:

Editor: Eko Fataip

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DPD RI Minta Sinkronisasi Data Peserta BPJS Kesehatan

Kamis, 24 November 2022 | 21:46 WIB
X