Biaya Kremasi di Pekalongan Naik 80 Persen, Warga Mengeluh di Tengah Pandemi

- Jumat, 23 Juli 2021 | 17:38 WIB
Petugas melakukan prosesi kremasi terhadap jenazah Covid-19 di Krematorium yang berada di Kelurahan Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, Kamis (22/7). Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi)
Petugas melakukan prosesi kremasi terhadap jenazah Covid-19 di Krematorium yang berada di Kelurahan Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, Kamis (22/7). Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Biaya kremasi jenazah di Krematorium Pekalongan, diketahui mendadak naik hampir 200 persen.

Akibat keputusan tersebut, membuat keluarga jenazah menyesalkan pihak yayasan yang menaikan harga secara sepihak, karena tidak semua yang dikremasi dari keluarga mampu.

Biaya kremasi di yayasan tersebut semula Rp 4 juta, tetapi sekarang naik menjadi Rp 7 juta.

Baca Juga: Jateng Raih Peringkat I Pelaporan Berbasis SIMEP Perlindungan Anak

Suasan haru menyelimuti lokasi krematoirum Yayasan Gotong Royong di Kota Pekalongan, warga Kelurahan Pringrejo Kecamatan Pekalongan Barat Kota Pekalongan, Lioe Siao Ing, akhirnya meninggal dunia karena menderita Covid-19 sejak sepekan terakhir, Kamis (22/7).

Pihak keluarga merasa terpukul, lantaran biaya kremasi mendadak naik. Dari harga kremasi semula Rp 4 juta, naik menjadi Rp 7 juta.

Padahal, biaya kremasi salah satu keluarga mereka yang meninggal tiga hari yang lalu hanya Rp 4 juta, bahkan itu pun belum sempat terbayarkan.

David Santosa, salah satu kerabat duka menyesalkan pihak yayasan yang menaikan harga kremasi secara sepihak.

Itu karena menurutnya, tidak semua orang yang dikremasi tergolong dari keluarga mampu. Sementara, biaya bahan baku solar sendiri, tidak ada kenaikan yang signifikan.

Baca Juga: Mario Suryo Aji Bersiap Hadapi Seri Kelima Moto3 di Aragon

"Saya sangat menyesalkan hal ini bisa terjadi, kenapa di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, tiba-tiba pihak yayasan menaikan biaya kremasi yang begitu fastastis," terang David Santosa.

Mestinya, kata dia, ditengah situasi seperti ini, empsti kemanusiaan harus menjadi perhatian bersama, bukan justru sebaliknya. Kendati harga kremasi sangat memberatkan, akan tetapi biaya kremasi sebesar Rp 7 juta, tetap dibayarkan ke pihak yayasan.

"Saya tidak habis pikir, jika yang meninggal dari keluarga kurang mampu, bagaimana bisa membayar biaya kremasi sebesar Rp 7 juta," tegasnya.

Terpisah, Ketua Yayasan Gotong Royong Pekalongan, Sugijanto Hartojo ketika dikonfirmasi via telfon menyatakan, Yayasan Gotong Royong Pekalongan merupakan kepengurusan baru, dan selama ini belum menghitung terkait biaya penyusutan dan perawatan di krematorium.

Sementara, akibat diterjang rob, kondisi krematorium di Kelurahan Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara sering rusak, dan membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi.

Baca Juga: Ngancani Wong Cilik, Fraksi PKB se-Jateng Bagi Lauk Pauk Gratis di Warung Desa

Bahkan, kata Sugijanto Hartojo yang akrab disapa Wawan itu, belum lama ini dilakukan peninggian dengan menelan biaya cukup besar.

Menurutnya, jika dibanding dengan Krematorium di Pemalang, biaya kremasi di Krematorium Pekalongan lebih murah, di Pemalang sendiri sebesar Rp 7,5 juta, sementara di Pekalongan hanya Rp 7 juta.

"Oleh sebab itu, pengurus yayasan memutuskan untuk menaikan biaya kremasi, tidak lain karena untuk menopang biaya penyusutan dan perawatan krematorium," terangnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Ganjar: Sikapi Fenomena Alam dengan Ilmu Titen

Rabu, 27 Oktober 2021 | 17:41 WIB
X