Ketika Nasib Pembudidaya Tak Semujur Pengusaha Oleh-oleh Bandeng : LPMUKP Oase di Tengah Pandemi 3- Habis

- Kamis, 22 Juli 2021 | 15:01 WIB
           Salah seorang anggota Kelompok Makmur Jaya menyebar probiotik sebagai pupuk pada tambak saat mengikuti sekolah lapang yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Demak, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Hartatik )
Salah seorang anggota Kelompok Makmur Jaya menyebar probiotik sebagai pupuk pada tambak saat mengikuti sekolah lapang yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Demak, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Hartatik )

BJA6 Sejumlah anggota Kelompok Makmur Jaya praktik memasang membrane pada tambak mereka saat sekolah lapang yang diadakan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Bunga Rendah

Kehadiran LPMUKP hingga kini, bagi Pak Dul ibarat oase, apalagi saat ini pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Menurutnya, bagi petambak, bantuan permodalan sangat dibutuhkan. Apalagi LPMUKP hadir memberikan pinjaman dengan bunga jauh lebih rendah dibanding bunga bank konvesional.

“Pada tahun yang sama LPMUKP menawarkan pinjaman, saya pernah ditawari kredit dari Bank Jateng tapi bunganya 9% per tahun. Lalu ada dari (PD BPR) BKK Demak bunga 2% per bulan, ada juga 5% per bulan,” urainya.

Dari sekian tawaran bank tersebut, Pak Dul menilai bahwa pinjaman yang ditawarkan LPMUKP jauh lebih ringan. Tidak hanya dari sisi bunga yakni 3% per tahun, tapi juga dari sisi agunan dan angsuran. Selain itu plafon pinjaman bisa sampai ratusan juta rupiah, namun syaratnya peminjam harus atas nama kelompok.

“Bank tidak ada yang mau menerima tambak sebagai agunan, tapi kalau LPMUKP justru mau.”

Sejumlah petambak mengaku banyak kesulitan yang harus dihadapi untuk dapat mencicipi modal kredit bank. Apalagi selama ini usaha di sektor kelautan dan perikanan masih dinilai perbankan sebagai sektor yang berisiko tinggi.

Begitu pun pihak bank hanya mau menerima agunan berupa sertifikat rumah, tanah maupun BPKB kendaraan bermotor. Pihak bank melihat tambak tidak memiliki nilai yang memadai atau nilainya rendah, jika dijadikan agunan. Kalau pun disetujui, plafon pinjaman yang dikucurkan bank bagi pembudidaya pun tidak lebih dari Rp 25 juta, seperti yang disalurkan melalui KUR.

 “KUR bisa dapat sampai Rp 25 juta karena saya sudah lama jadi debitur, sejak 2006. Kalau bukan nasabah lama, tidak mungkin dapat pinjaman sebesar itu,” kata pria tambun ini.

Bak gayung bersambut, pinjaman yang ditawarkan LPMUKP memang sudah lama dinanti. Pak Dul yang tergabung dalam Kelompok Makmur Jaya mengaku, proses pengajuan pinjaman ke LPMUKP relatif cepat dan mudah.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

2.358 Peserta Tes Berebut 100 Kuota CPNS Pemkab Kebumen

Sabtu, 25 September 2021 | 15:51 WIB

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB

BIN Door to Door Vaksin Warga Temanggung

Kamis, 23 September 2021 | 20:30 WIB
X