Tersangka Korupsi Bank Jogja Bertambah Jadi 5 Orang

- Kamis, 22 Juli 2021 | 14:45 WIB
Logo Bank Jogja./Bank Jogja
Logo Bank Jogja./Bank Jogja

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Penyidikan kasus dugaan korupsi penyaluran kredit PD BPR Bank Jogja masih terus bergulir.

Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY bahkan telah menetapkan tiga tersangka baru yang semuanya merupakan pegawai Bank Jogja Cabang Gedong Kuning.

Identitas para tersangka yakni AW (kepala kantor), EK (kasi kredit), dan LPA (marketing). Mereka adalah karyawan yang berkaitan langsung dengan pencairan kredit.

"Ketiganya ditetapkan tersangka pada 13 Juli 2021, tapi sementara ini belum ditahan," kata Kasi Penerangan Hukum Kejati DIY Sarwo Edi saat dikonfirmasi, Kamis (22/7).

Baca Juga: Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19, OJK Siapkan 1 Juta Dosis

Pada Maret lalu, penyidik terlebih dulu mengumumkan dua nama tersangka yaitu KV (cluster manager Transvision Cabang Yogyakarta), dan FE (sales agent).

Keduanya ditahan di Rutan Wirogunan Yogyakarta sejak 25 Maret silam, dan sekarang perkaranya telah masuk tahap penelitian oleh jaksa penuntut umum.

Dalam penanganan perkara rasuah ini, penyidik membagi berkas pemeriksaan menjadi enam.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Khusus tersangka KV dikenakan pula tuduhan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Baca Juga: PPKM Level 4, Startup Penyedia Kerja Sampingan Diminati Pekerja Terimbas PHK

"Belum tahu apakah persidangannya dibarengkan atau tidak antara perkara korupsi dan pencucian uang. Tapi biasanya digabung," ucap Edi.

Dari hasil audit, potensi kerugian negara dalam kasus ini cukup fantastis, mencapai lebih dari Rp 27 miliar.

Perkaranya sendiri bermula dari penandatangan MoU antara Bank Jogja dengan pimpinan cabang Transvision Yogyakarta pada 15 Agustus 2019.

Berdasar nota kesepahaman tersebut kemudian dikucurkan kredit pegawai kepada 168 karyawan Transvision.

Baca Juga: Peningkatan Daya Saing Pertanian, Produktivitas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jadi Kunci

Besaran pinjaman yang diberikan bervariasi antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per debitur. Pembayarannya disepakati dengan sistem potong gaji.

Namun dalam perkembangannya, pada tahun 2020 ditemukan dugaan penyelewengan dengan modus pengajuan kredit fiktif.

Dari hasil pemeriksaan diketahui sebanyak 162 debitur ternyata bukan karyawan Transvision sehingga terjadi kredit macet.

Baca Juga: Vaksinasi Dosis 2 di Polres Kebumen, Warga Antusias Mengikuti

"Dokumen debitur diduga dipalsukan. Nota MoU juga dibuat tanpa sepengetahuan perusahaan pusat," imbuhnya.

Sementara itu, aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba menyatakan akan terus mengawal kasus ini sampai vonis dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor.

"Dengan adanya penambahan tersangka membuktikan proses hukum tetap berjalan. Kita akan kawal sampai ke pengadilan nanti," tandasnya. 

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Guru PGSI Antusias Ikuti Program Perlindungan Sosial

Kamis, 23 September 2021 | 15:50 WIB
X