Ketika Nasib Pembudidaya Tak Semujur Pengusaha Oleh-oleh Bandeng, Banjir Rob Tak Berkesudahan - 2

- Senin, 19 Juli 2021 | 15:06 WIB
Salah seorang warga Desa Purworejo Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak melintasi tanah pengurukan jalan di atas genangan rob yang merendam jalan raya dan permukiman, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Salah seorang warga Desa Purworejo Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak melintasi tanah pengurukan jalan di atas genangan rob yang merendam jalan raya dan permukiman, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Hartatik)

 

DEMAK- Gerhana bulan merah (superblood moon) yang terjadi akhir Mei lalu, menyisakan keprihatinan tersendiri bagi masyarakat pesisir pantura. Tak terkecuali di Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak. Meskipun salah satu desa pesisir di Kota Wali ini, memang sudah langganan banjir rob, yang disebabkan oleh air laut naik ke daratan saat pasang.

Namun genangan dari pasang air laut sepekan setelah gerhana bulan total itu bisa sampai satu meter lebih. Padahal ketinggian rob biasanya hanya berkisar 10-30 cm. Siang itu, 2 Juni sekira pukul 13.00, banjir akibat pasang laut menggenangi perkampungan dan jalan raya di Dukuh Pongangan, Desa Purworejo hingga setinggi paha orang dewasa.

Tidak sedikit sepeda motor yang mogok di tengah jalan, lantaran knalpot kemasukan air laut. Angkutan desa yang berani menerobos genangan rob pun bisa dihitung jari. Bahkan tak jarang minibus berputar balik lantaran ketinggian rob mustahil untuk dilintasi. Hanya becak montor (bentor) yang berani melintasi banjir.

“Sehari-hari rob di Desa Purworejo memang seperti ini. Kalaupun surut, hanya sebentar. Seperti hari ini, rob naik siang nanti puncaknya sore. Malam surut, tapi siang rob mulai naik lagi,” ujar Zaenudin (54), warga Dukuh Pongangan.

Bagi nelayan dan petani tambak, kerugian yang diderita akibat rob menjadi ganda. Selain bangunan rumah dan kendaraan menjadi mudah keropos, harga jual tangkapan serta panenan tambak menjadi anjlok. Harga jual bisa turun hingga 20 persen.

“Alasan bakul (tengkulak), 20 persen itu untuk nombokin transportasi karena tidak banyak kendaraan yang mau melintasi daerah genangan rob,” imbuhnya.

Berdasar data prakiraan pasang surut yang dirilis oleh Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Tanjung Emas, ketinggian air pasang laut sepekan setelah gerhana bulan merah berkisar mulai 60-110 cm.

“Ketinggian air pasang paling tinggi dari pantauan kami prediksi sebelumnya, ada di minggu pertama Juni tanggal 1-6, dan minggu ketiga antara tanggal 16-20. Untuk waktu kejadian pasang sekira pukul 12.00-17.00,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Tanjung Mas Semarang Retno Widyaningsih.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sapi Milik Peternak Miskin Dibantu Pakan Konsentrat

Minggu, 26 September 2021 | 20:04 WIB

Klinik Bima Husada, Gratis Bagi Warga Tak Mampu

Minggu, 26 September 2021 | 19:04 WIB

Prospek Budi Daya Tanaman Porang di Magelang Terbuka

Minggu, 26 September 2021 | 13:26 WIB

2.358 Peserta Tes Berebut 100 Kuota CPNS Pemkab Kebumen

Sabtu, 25 September 2021 | 15:51 WIB

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB
X