Ketika Nasib Pembudidaya Tak Semujur Pengusaha Oleh-oleh Bandeng, Harus Ada Agunan Hingga Terlilit Rentenir -1

- Rabu, 14 Juli 2021 | 19:31 WIB
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)

Hal serupa dilakukan Didik (41), nelayan arad di Tambaklorok yang memerlukan modal untuk membeli perahu. Lalu ia, mengajukan pinjaman ke bank sebesar Rp 20 juta, dengan angsuran sekitar Rp 850.000/bulan selama dua tahun. Ia pun mengajukan sertifikat rumah sebagai agunan.

Sementara itu, petani tambak bandeng di di Brangsong, Kabupaten Kendal, Sriyono (52), mengaku, akses permodalan memang sangat dibutuhkan. Sebab modal budidaya ikan bandeng butuh dana besar.

“Untuk sekali panen, petani tambak memerlukan dana segar Rp 11 juta,” katanya.

Dana itu belum termasuk sewa lahan bandeng yang kini sekitar Rp 5 juta per hektar per tahun. Adapun pembiayaan paling besar untuk pembelian bibit ikan bandeng sampai Rp 7,5 juta per hektar.

“Ditambah urea, vitamin, serta obat-obatan Rp 1 juta, biaya pengeringan tambak Rp 1 juta, serta beras untuk penjaga maupun dana cadangan Rp 2 juta,” imbuh Sriyono.

Nururrochman Hidayatulloh, peneliti pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial mengatakan,nelayan maupun pembudidaya identik dengan keterbatasan aset, lemahnya kemampuan modal, posisi tawar dan akses terhadap pasar.

Usaha perikanan yang dilakukan hanya sebagai subsistem yang hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, sehingga keadaan seperti ini menimbulkan kecenderungan miskin. Keluarga nelayan miskin tetap bertahan dan mampu bangkit dari keterpurukan manakala didukung oleh ketersediaan alam yang melimpah, namun hal ini bersifat sementara.

“Ketika tidak musim ikan atau sedang musim badai menjadi paceklik atau terpuruk, sebab orientasi dan aspek kehidupannya masih belum terpola dengan baik,” bebernya.


Liputan mendalam ini bagian dari program Banking Journalism Academy yang diselenggarakan AJI Indonesia.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kikis Individualisme, Galakkan Nilai-Nilai Bung Karno

Jumat, 2 Desember 2022 | 20:15 WIB

Peduli Lingkungan, Raih Penghargaan SDGs Awards

Jumat, 2 Desember 2022 | 15:51 WIB
X