Ketika Nasib Pembudidaya Tak Semujur Pengusaha Oleh-oleh Bandeng, Harus Ada Agunan Hingga Terlilit Rentenir -1

- Rabu, 14 Juli 2021 | 19:31 WIB
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)

“Kalau ditanya kenapa mau pinjam rentenir kalau sudah tahu bunganya tinggi, ya karena mudah. Nggak perlu ada jaminan. Prinsipnya saling percaya satu sama lain.”

Sementara itu, seorang petambak di Tambaklorok, Budiono mengaku ‘bank plecit’ menjadi solusi untuk mendapat pinjaman saat hasil panenan tidak bagus.

Enggak ada salahnya ngutang dulu. Kalau panenan bagus, hasil kembali melimpah, baru kita bisa cicil buat ngembaliin utang,” terangnya.

Hal senada diungkapkan petambak lainnya, Supaat (38). Menurutnya, meminjam uang di rentenir memang mudah tidak harus ada jaminan dan proses pencairan begitu cepat. Selain itu, bisa memilih angsuran yaitu angsuran harian, mingguan atau bulanan. Namun tidak dipungkiri bunga yang ditawarkan membuat nelayan semakin terpuruk dalam kemiskinan. Tak jarang nelayan menunggak bayar hutang mengakibatkan denda-denda semakin banyak, sehingga hutang nelayan bukannya berkurang melainkan bertambah.

“Kalau saya susah untuk membayar hutang biasanya suruh bayar bunganya saja, jadi hutang saya tetap segitu walau saya udah ngangsur.

Selain rentenir, menurutnya, seringkali bakul juga menjadi alternatif bagi nelayan dan petambak mencari pinjaman uang. Ada nelayan yang meminjam uang pada bakul dengan jaminan hasil tangkapan di musim panen akan di jual ke bakul tersebut dan hasil dari jualan tersebut langsung dipotong untuk membayar utang mereka.

Meminjam dengan bakul sama halnya dengan renternir, tidak ada persayaratan khusus. Namun jika meminjam dengan bakul, mereka tidak dikenakan bunga akan tetapi nelayan harus menjual hasil tangkapannya kepada bakul yang meminjamkan modal.

MENGEMAS BANDENG: Salah seorang karyawan toko pusat oleh-oleh mengemas bandeng presto. (suaramerdeka.com/dok)

Harga jual juga sudah ditentukan oleh bakul, sehingga nelayan tidak bisa tawar menawar harga jual. Sedangkan bagi mereka yang memiliki aset untuk diagunkan, lebih memilih pinjam uang di bank. Seperti yang dilakukan oleh tiga anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Bahari di Kabupaten Demak.

Ketiganya adalah Abdul Jabbar, Ny Shofiyah dan Abdul Jamil. Mereka mesti memberikan agunan berupa BPKB kendaraan bermotor agar mendapatkan kredit mikro antara Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Serahkan DIPA dan TKD 2023, Dana Desa Jateng Rp 7,85 T

Selasa, 6 Desember 2022 | 21:22 WIB

Kominfo Sosialisasikan RKUHP di Unsoed Purwokerto

Selasa, 6 Desember 2022 | 17:50 WIB
X