Ketika Nasib Pembudidaya Tak Semujur Pengusaha Oleh-oleh Bandeng, Harus Ada Agunan Hingga Terlilit Rentenir -1

- Rabu, 14 Juli 2021 | 19:31 WIB
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)
ANTRE MEMBELI : Sejumlah pembeli antre membeli olahan ikan bandeng di salah satu toko pusat oleh-oleh, Jalan Pandanaran, Semarang. (suaramerdeka.com/dok)


SEMARANG, suaramerdeka.com - Jalan-jalan ke Kota Semarang, nampaknya belum lengkap tanpa membawa bandeng presto sebagai oleh-oleh khas Kota Atlas ini. Makanan berbahan dasar ikan bandeng ini pun menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Tak ayal, bandeng presto akan mudah didapati di toko dan kios oleh-oleh yang berada di sepanjang jalan protokol maupun jalan pantura. Bahkan kini ikon bandeng sebagai oleh-oleh juga diusung oleh pelaku usaha kuliner di Kabupaten Kendal, Demak hingga Pati.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda negeri ini, para produsen hingga pemilik usaha oleh-oleh ini mampu meraup omzet jutaan hingga puluhan juta dalam sehari dari penjualan bandeng presto. Diah Permatasari (40), misalnya, memiliki dua toko oleh- oleh ikan bandeng, di Jalan Pantura Kelurahan Ketapang, dan di rest area Km 389 Tol Batang-Semarang. Dalam seminggu, ia mampu menghabiskan 80-100 kilogram ikan bandeng. Sedangkan pada hari-hari besar dapat mencapai 4 kuintal lebih per minggu. Untuk bandeng cabut duri, lanjutnya, bandeng dijual mulai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per bok isi dua ekor.

Lalu omzet para produsen olahan bandeng di Kampung Sentra Bandeng, Tambakrejo dalam sehari rata-rata bisa mencapai Rp 1,5 juta. Salah satunya, Fatkhan, mampu menjual bandeng segar sebanyak 5 kilogram dalam sehari. Lain halnya dengan Nasoka yang menjual olahan ikan bandeng.“

"Saya jual bandeng per ekor, yang besar Rp 15.000 kalau yang kecil Rp 10.000. Kalau bandeng presto harganya Rp 75.000 per kilogram,”kata Nasoka.

Namun siapa sangka nasib mujur para pengusaha bandeng presto ini justru berbanding terbalik dengan para petani tambak bandeng. Sebab hingga kini, petani tambak bandeng masih terlilit masalah permodalan. Tidak sedikit dari mereka bahkan terjerat hutang rentenir. Ahmad Sueb (45), ketua RW 13 Kampung Tambak Loorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang mengatakan, mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan dan petani tambak.

“Ada sekitar 900 orang di kampung ini yang mengandalkan penghasilan dari menangkap ikan di laut dan budidaya bandeng,” kata ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tiga Berlian ini.

Namun ironinya, hampir 60 persen warga di Kampung Bahari tersebut terlilit hutang rentenir untuk menutupi kebutuhan hidupnya.

“Rentenir di sini hidup subur, sebab banyak yang pinjam,” imbuhnya.

Padahal renternir yang memiliki sebutan ‘bank plecit’ atau ‘bank titil’ mematok bunga cukup tinggi. Sueb pun mencontohkan, jika pinjaman Rp 1 juta selama satu bulan, biasanya rentenir akan mematok bunga 30 persen dalam setiap transaksinya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sapi Milik Peternak Miskin Dibantu Pakan Konsentrat

Minggu, 26 September 2021 | 20:04 WIB

Klinik Bima Husada, Gratis Bagi Warga Tak Mampu

Minggu, 26 September 2021 | 19:04 WIB

Prospek Budi Daya Tanaman Porang di Magelang Terbuka

Minggu, 26 September 2021 | 13:26 WIB

2.358 Peserta Tes Berebut 100 Kuota CPNS Pemkab Kebumen

Sabtu, 25 September 2021 | 15:51 WIB

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB
X