KEE Jadi Solusi Konservasi Owa dan Ekonomi Masyarakat Berjalan Selaras di Hutan Petungkriyono (3-Habis)

- Jumat, 9 Juli 2021 | 17:37 WIB
Pemandangan kawasan hutan di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Isnawati)
Pemandangan kawasan hutan di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Isnawati)

PEKALONGAN - Masuk ke Hutan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Anda langsung terbenam dalam rindangnya ratusan pohon yang menjulang tinggi. Di antaranya adalah mranak (Castanopsis acuminatissima), puspa (Schima wallichi), nagasari (Mesu ferrea) dan wuru banyu (Litsea umbellate). Jika beruntung, Anda bisa bertemu dengan owa jawa (Hylobates moloch) yang terancam punah. Primata tak berekor dengan lengan panjang yang berayun cepat dari satu cabang pohon tinggi ke cabang berikutnya.

Hutan adalah salah satu benteng terakhir owa. Primata lain yang hidup di sana antara lain lutung jawa (Trachypithecus auratus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan surili jawa (Presbytis comata). Semuanya adalah spesies yang terancam. Tekanan meningkat pada hewan-hewan ini dan habitatnya karena perkembangan ekonomi lokal. Tapi itu akan berubah, dengan rencana untuk menetapkan Hutan Petungkriyono sebagai Kawasan Ekosistem Esensial. Langkah ini dapat membantu pelestarian satwa liar, sambil memastikan masyarakat setempat dapat mempertahankan mata pencaharian berbasis hutan, dari produksi kopi berkelanjutan hingga ekowisata.

Hutan yang berada di bagian selatan Kabupaten Pekalongan ini memiliki luas sekitar 7.683 hektar dengan ketinggian antara 600 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Meskipun pemukiman sekarang mencakup 16% dari luas aslinya, hutannya masih sangat alami dan kaya akan keanekaragaman hayati.

Menurut Fransisca Emilia, Ahli Muda Pengendali Ekosistem Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Petungkriyono memiliki sedikitnya 112 jenis pohon, 46 jenis anggrek epifit dan 30 jenis paku-pakuan, serta primata dan satwa liar lainnya yang terancam punah.

Lebih lanjut, selain kaya akan keanekaragaman hayati, kawasan Petungkriyono juga memiliki potensi jasa lingkungan yang sangat besar, terutama air terjun. Potensi tersebut sudah banyak dikembangkan untuk pariwisata.

Didukung lanskap yang sangat menawan, pengembangan pariwisata di kawasan Petungkriyono cukup pesat. Namun, pengembangan tersebut belum memperhatikan fungsi konservasi dan ekologi kawasan, sehingga habitat satwa pada beberapa lokasi terganggu.

Pertumbuhan Pariwisata

Selama lima tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah mempromosikan pengembangan pariwisata di lanskap pegunungan hutan, sungai dan air terjun Petungkriyono. Mantan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan, dengan perbaikan infrastruktur, Pemkab telah mengubah Petungkriyono dari daerah yang dianggap terisolasi, bahkan angker, menjadi ramai dikunjungi wisatawan.

Salah satu destinasi wisata yang memanfaatkan kanopi pohon khas hutan tropis di Petungkriyono sebagai spot foto wisatawan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

“Dulu tidak ada destinasi wisata. Sekarang Pokdarwis mengelola puluhan destinasi wisata berbasis alam,” kata Kholbihi yang purna jabatan pada 26 Juni lalu.

Namun perkembangan pariwisata yang pesat tidak selalu memperhitungkan konservasi dan ekologi, dan di beberapa tempat habitat alami owa telah terganggu. Arif Setiawan, peneliti dari Yayasan Swara Owa yang akrab disapa Wawan, memiliki perasaan campur aduk terhadap perkembangan jasa pariwisata di kawasan hutan Petungkriyono.

Disatu sisi, katanya, ini adalah peluang untuk meningkatkan ekonomi lokal dan regional. Dia mengatakan jalan berkualitas baik membuat lokasi wisata mudah diakses dan ini akan membantu menarik investor.

Wawan mencontohkan, banyak spekulan yang sudah membeli tanah masyarakat setempat yang berada di atas Dusun Sokokembang. Tanah yang sudah dibeli spekulan ini tinggal menunggu investor untuk dijual kembali. Namun jika pariwisata tidak dikelola dengan hati-hati, dia mengingatkan, hutan bisa rusak.

“Jika dibiarkan, itu bisa menggeser keberadaan owa,” katanya.

“Kami mulai melihat ini dalam pemantauan bulanan kami terhadap owa, yang dulu mudah ditemukan di pinggir jalan, tetapi sekarang sudah jarang terlihat.”

Wawan menambahkan, meskipun sebagian besar hutan Petungkriyono secara resmi dilindungi sebagai hutan negara, pada kenyataannya banyak orang menebang pohon untuk membuat ladang dan kebun atau untuk memperluas permukiman.

Owa Langka

Ancaman yang ditimbulkan oleh peningkatan kegiatan ekonomi lokal beberapa tahun terakhir sangat akut bagi owa jawa. Apalagi owa merupakan makhluk pemalu yang akan menjauh ketika melihat orang. Mereka bergantung pada hutan berkualitas tinggi. Pada saat yang sama, hutan bergantung pada owa, sebagai pemakan buah sekaligus penyebar benih, penting bagi kelestarian banyak spesies pohon. Tetapi organisasi konservasi dunia, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikan owa jawa 'terancam punah', dengan kemungkinan 50% akan punah dalam satu dekade berikutnya.

Peta sebaran owa dan lutung jawa di hutan Petungkriyono dari hasil identifikasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)

Sofian Iskandar, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan, habitat owa jawa menyusut 96%, dari 43.274 km2 menjadi sekitar 1.608 km2. Hilangnya habitat ini sebagian besar disebabkan oleh perluasan permukiman dan pertanian sebagai konsekuensi dari pertumbuhan populasi yang sangat cepat. Artinya, owa-owa sekarang kebanyakan terkurung di petak-petak hutan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sementara beberapa kawasan ini dilindungi untuk konservasi. Lainnya, seperti Petungkriyono, tidak. Melestarikan spesies langka yang hidup di luar kawasan konservasi tidak dipungkiri sulit dilakukan, ketika masyarakat lokal juga memanfaatkan hutan. Pada saat yang sama, akan sulit untuk menetapkan hutan Petungkriyono sebagai kawasan konservasi, karena kepentingan ekonomi masyarakat lokal di dalamnya.

Jalan Tengah

Pada tahun 2019, mengikuti masukan dari para pemangku kepentingan termasuk masyarakat setempat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah mengusulkan agar 5.173,8 hektar hutan Petungkriyono menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Usulan proteksi ini untuk melindungi kawasan hutan dengan keanekaragaman hayati tinggi, namun berada di luar kawasan konservasi konvensional seperti taman nasional dan suaka margasatwa.

Setelah disetujui oleh gubernur, proposal usulan Perungkriyono sebagai KEE kini berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk persetujuan akhir, kata Widi Hartanta, Pj Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Dikatakannya, menjadikan Petungkriyono sebagai KEE dapat menjaga kelestarian ekosistem hutan dan owa jawa di dalamnya, tanpa mengubah bentang alam atau menghambat kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Pasalnya, lahan berstatus KEE ini nantinya dikelola oleh forum multistakeholder yang bertugas dengan dasar surat keputusan (SK) dari gubernur. Idenya adalah bahwa dengan menyatukan perwakilan dari instansi pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil dan lainnya, forum itu akan membuat keputusan tentang pengelolaan hutan yang mencerminkan kebutuhan kelompok yang berbeda dan pada akhirnya menyelaraskan konservasi dan pembangunan ekonomi.

“Misalnya, apa yang harus dilakukan Badan Lingkungan Hidup, dan polisi karena ada satwa yang dilindungi di sana,” jelas Widi.

“Lalu bagaimana mengoptimalkan layanan ekowisata, tanpa mengubah bentang alam dan merusak lingkungan. Dan juga membahas peran perguruan tinggi yang kita atur, karena Petungkriyono adalah hutan penelitian.”

Soegiharto, Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Konservasi Sumber Daya Alam Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, mengatakan KEE merupakan instrumen pengelolaan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Masyarakat tidak akan dirugikan, karena penetapan KEE ini tidak akan mengubah status tanah mereka,” kata Soegiharto.

“Bagi masyarakat yang sudah memanfaatkan hutan (seperti petani kopi dan kelompok sadar wisata), aksesnya akan diatur sesuai aturan KEE. Prinsipnya masyarakat tetap bisa memanfaatkan hutan, tapi juga harus bersama-sama menjaganya,” imbuhnya.

“Kalau hutannya tidak bagus, pasti jasa pariwisata akan menurun. Keduanya saling berhubungan. Mantan Bupati Pekalongan, Asip Kholbih menambahkan, pengembangan destinasi wisata di hutan Petungkriyono tidak bisa dilakukan sebarangan dan harus menjaga kelestarian hutan.

“Sebagai salah satu kawasan hutan alam terakhir yang masih tersisa di Pulau Jawa, pariwisata harus dikembangkan di sana,” ujarnya.

“Tapi harus dikelola dengan hati-hati. Jangan dikembangkan sembarangan.”

Tantangan Masa Depan

Dr Muhammad Alif K Sahide, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mengatakan, KEE sangat dibutuhkan untuk melestarikan ekosistem hutan di luar kawasan konservasi. Tapi dia menambahkan, KEE juga bisa menjadi tantangan untuk diterapkan.

“Sayangnya, KEE belum menjadi prioritas dalam pengelolaan daerah,” ujarnya.

“Hal ini tentu berimplikasi pada pendanaan KEE yang belum tertuang secara eksplisit dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah. Selain itu, sifat KEE yang dikelola secara kolaboratif membuat upaya perencanaan dan pengelolaan cukup kompleks, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai kesepakatan.”

Bentang alam air terjun dan pegunungan menjadi pengembangan destinasi wisata di Petungkriyono. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Namun selain itu ada juga tantangan komunikasi, menurut Wawan, peneliti primatea dari Yayasan Swara Owa yang telah menunjukkan bagaimana produksi kopi dan konservasi owa dapat berjalan beriringan di Petungkriyono.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa konsep usulan Petungkriyono menjadi KEE belum sepenuhnya dipahami masyarakat,” ujarnya.

“Karena bagi sebagian masyarakat, terminologi KEE masih asing.”

Meski begitu, Wawan melihat KEE sebagai sarana perlindungan habitat owa dengan mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan dengan Petungkriyono untuk terlibat dalam pengelolaan hutan secara kolaboratif. Ia sangat berharap status KEE Petungkriyono akan menambah nilai produk masyarakat lokal, seperti kopi yang mereka tanam di hutan.

Ia menantikan hari dimana konsumen dapat berkata: “Oh, ini adalah produk kopi owa dari kawasan hutan dengan nilai konservasi. Itu dihasilkan dengan memperhatikan kelestarian hutan.” 

Liputan mendalam ini diproduksi dengan dukungan dari Internews dan Earth Journalism Network

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB

BIN Door to Door Vaksin Warga Temanggung

Kamis, 23 September 2021 | 20:30 WIB
X