Peran Petani Kopi dan Perempuan dalam Konservasi Owa (2): Berdaya di Masa Pandemi

- Rabu, 30 Juni 2021 | 15:45 WIB
Seorang istri petani kopi menunjukkan hasil penyortiran buah kopi merah berkualitas baik yang dipetik dari hutan untuk diolah menjadi "Kopi Owa" di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Seorang istri petani kopi menunjukkan hasil penyortiran buah kopi merah berkualitas baik yang dipetik dari hutan untuk diolah menjadi "Kopi Owa" di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com – Kopi Owa sukses berkat para wanita yang membantu menentukan kualitas produk dengan menyortir dan mengeringkan buah kopi merah, dan memanggang dan menggiling green bean kopi. Beberapa warga di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, telah membudidayakan kopi dan mengolahnya menjadi minuman sejak kecil.

“Kopi hutan sudah ada di Petungkriyono jauh sebelum saya lahir,” ujar salah satu ibu di sana, Sariah (55).

Ia mengaku otodidak mengolah kopi hutan yang ditanam orang tuanya. Pertama memanggang biji kopi di wajan, lalu menumbuknya dengan alu dan lesung. Namun, selama dua tahun terakhir, Sariah memanggangkan biji kopi mentah (green bean) hasil panennya, menggunakan mesin sangrai di rumah Tasuri, yang disediakan oleh proyek Yayasan Swara Owa.

Keluarga Sariah bisa memanen 300-400 kg kopi dalam setahun. Sebelum menerima pelatihan pengolahan kopi melalui proyek Yayasan Swara Owa, Sariah menjual kopi sebagai biji 'basah' yang baru dikeluarkan dari buah kopi, di mana tengkulak hanya membayar Rp. 2.000–3.000/kg. Hari ini, dia bisa menjual green bean kopi seharga Rp. 20.000/kg. Dia mengatakan uang yang dia hasilkan akan mendukung dia dan suaminya di hari tua mereka.

Perempuan lainnya, Kunapah, istri Tasuri (43), bertugas menjemur dan menyortir biji kopi yang dipanen dari tanaman yang ditanam suaminya di hutan. Dia mengatakan bahwa, setelah menerima pelatihan melalui proyek, dia sekarang dapat membedakan antara biji kopi berkualitas baik dan jelek.

Perempuan memilah ceri kopi merah berkualitas baik yang dipetik dari hutan untuk diolah menjadi ‘Kopi Owa’ di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Setelah dia menyortir biji, Kunapah memisahkan biji kopi pecah yang akan dijual di pasar lokal, dan biji kopi utuh yang akan dipanggang suaminya untuk dijual sebagai kopi ‘Kopi Owa’. Ismiati (22), putri pasangan Tasuri dan Kunapah membantu pemasaran Kopi Owa dengan sistem cash on delivery (COD). Jika ada pesanan dari luar Kabupaten Petungkriyono, dia yang bertugas mengantarkannya. Tasuri juga mengajari Ismiati cara menyangrai biji kopi.

“Awalnya saya bingung,” katanya.

“Saya tidak tahu apa itu roasting medium, light dan dark, jadi ayah saya menemani saya. Tapi setelah tiga kali mencoba, saya bisa melakukannya sendiri.”

Pandemi Covid-19

Pendapatan dan mata pencaharian meningkat sejak proyek konservasi kopi dan primata dimulai. Tetapi pandemi Covid-19 telah mengubah segalanya. Penjualan Kopi Owa turun setengahnya, setelah pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat dalam rangka pengendalian pandemi. Ekspor Kopi Owa ke Singapura terhenti.

Tasuri mengatakan, sebelum pandemi, ia bisa menjual Kopi Owa sebanyak 200 bungkus (kemasan 100 gram), dengan total pendapatan Rp. 3.000.000 setiap minggu. Namun selama pandemic, ia hanya bisa menjual setengah dari jumlah itu. Penjualan ke pedagang lokal pun turun, karena mereka disuruh tutup lapak jam 9 malam.

“Padahal biasanya jam segitu pembeli sedang banyak-banyaknya, kata Tasuri.

Penjualan juga turun setengahnya di Kedai Kopi Gula Aren Sukirno selama pandemi. Dia mengaku mengandalkan penjualan kopi di akhir pekan, karena kedai itu biasanya ramai dikunjungi pelanggan.

“Tapi sekarang tidak bisa jadi andalan,” katanya.

“Tahun ini bisnis saya hancur. Dulu, saya rata-rata penjualannya Rp 150.000 sehari. Sekarang hanya setengahnya. Kadang-kadang saya bahkan menghasilkan harus tombok."

Tanam Kapulaga

Pada Mei 2021, pendiri proyek konservasi kopi dan primata, Arif ‘Wawan’ Setiawan, menerbitkan sebuah artikel di jurnal konservasi Oryx, yang menyoroti dampak pandemi pada proyek tersebut.

“Biasanya, masyarakat yang bekerja dengan wanatani memiliki kapasitas untuk bertahan dalam situasi seperti itu, dengan mengandalkan komoditas pangan yang mereka hasilkan sendiri,” tulisnya.

“Namun, dalam hal ini terhentinya penjualan kopi berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar. Dari pengalaman ini, proyek konservasi kopi dan primata menyadari pentingnya mempertimbangkan pilihan komoditas agroforestri berdasarkan ketahanannya, dan untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.”

Salah satu pilihan yang kini terlihat menarik adalah budidaya kapulaga, yang sudah dirintis oleh beberapa ibu-ibu di desa-desa pendukung Hutan Petungkriyono. Munjanah (60), warga Dusun Sokokembang, sudah lima tahun bercocok tanam. Dia dapat memainkan peran yang lebih besar, dari menanam hingga memanen kapulaga, dibandingkan dengan budidaya kopi, yang sebagian besar menjadi pekerjaan suaminya, Munadi (61).

Mbah Domiri membuat gula aren jahe dari nira, sejenis pohon aren yang tumbuh subur di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

“Kopi tanaman tinggi,” katanya.

“Saat panen, suami saya memanjat, dan saya membantu memungut biji kopi yang jatuh. Ketika saya memanen kapulaga, saya melakukannya sendiri karena tanamannya rendah.”

Setiap 15 hari, setelah dia selesai memasak dan melakukan pekerjaan rumah sekira pukul 07.00, dia pergi ke hutan dan menghabiskan beberapa jam membersihkan rumput liar. Sekali panen bisa menghasilkan 200 kg kapulaga. Di musim hujan, kapulaga dijual seharga Rp 10.000 hingga 20.000 per kilogram, namun pada musim kemarau harganya mencapai Rp. 30.000 sampai 40.000 per kilogram.

Ariah (60) mulai menanam kapulaga dua tahun lalu. Dia tertarik dengan tanaman itu karena harga jualnya lebih tinggi dan bisa dipanen hingga empat kali setahun. Tidak seperti kopi hutan yang dipanen hanya setahun sekali. Menanam kapulaga juga lebih masuk akal bagi Ariah daripada menanam padi, yang bergantung pada irigasi tadah hujan dan memiliki harga pasar yang rendah jika tidak dikuliti. Jadi, dia memutuskan untuk mengubah sawahnya dan menanam kapulaga di sana sekarang. Alih-alih menghasilkan 70 kg beras bernilai rendah, ia dapat memanen kapulaga hingga 400 kg serta nilai jualnya lebih tinggi.

“Pertama kali saya jual kapulaga basah seharga Rp 3.000/kg, tapi sekarang saya jual kapulaga kering seharga Rp 26.000/kg,” kata ibu empat anak ini.

“Dulu saya menanam padi untuk konsumsi sendiri, tapi sekarang saya lebih memilih kapulaga karena saya bisa mengandalkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.”

“Kalau kita mengelola hutan dengan baik, sebenarnya bisa lebih produktif,” imbuh Wawan.

“Misalnya nira aren bisa dijadikan gula semut. Gula ini lebih tahan lama dan dijual dengan harga lebih tinggi.”

Produksi madu adalah cara lain bagi petani untuk meningkatkan pendapatan mereka, katanya. Pada tahun 2017, Yayasan Swara Owa menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat desa tentang budidaya lebah hutan, serta mendirikan pusat informasi dan demplot madu hutan di Desa Lebakbarang. Usaha madu dipromosikan karena lebah klanceng (Trigona sp) yang tidak bersengat merupakan penyerbuk tanaman kopi.

“Sudah mulai berproduksi, tapi masih minim,” kata Wawan.

Masyarakat sekitar Hutan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan sudah mulai beternak lebah klanceng untuk menghasilkan lebah hutan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

“Dalam tiga bulan, baru satu liter madu yang dihasilkan. Namun bisnis madu hutan ini sangat menjanjikan, selain menopang produktivitas tanaman kopi di masa depan." (Bersambung)

Liputam mendalam ini diproduksi dengan dukungan dari Internews dan Earth Journalism Network (EJN).

 

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X