Peran Petani Kopi dan Perempuan dalam Konservasi Owa (1): Dulu Pemburu Kini Jadi Agen Pelestari Hutan

- Rabu, 30 Juni 2021 | 14:12 WIB
Seekor Owa Jawa bergelantungan di antara pepohonan di hutan Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Seekor Owa Jawa bergelantungan di antara pepohonan di hutan Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com/Hartatik)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Selama lebih dari satu dekade, kopi yang ditanam di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, telah membantu melestarikan Owa Jawa dan primata lainnya yang terancam punah. Di balik hasil tersebut ada kontribusi besar dari wanita yang memiliki pengetahuan mendalam tentang kopi. Karena pandemi Covid-19 telah menunjukkan risiko bergantung pada satu tanaman, semakin banyak penduduk desa yang melakukan diversifikasi ke produksi kapulaga dan madu, sambil melindungi rumah hutan owa. Hartatik dan Isnawati melaporkan untuk suaramerdeka.com.

 

GERIMIS mengiringi perjalanan tim Yayasan Swara Owa menyusuri kawasan hutan di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, pada Maret lalu. Yayasan yang bernama Yayasan Swara Owa ini merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bekerja untuk melestarikan primata dan habitatnya.

Duduk di mobil pikap, Alifah Dina dan anggota tim lainnya menatap ke atas, menembus rimbunnnya pohon di kedua sisi jalan. Mata mereka terus mengamati dan mencari, berharap hewan endemik yang berumah di hutan itu muncul di sela-sela dahan pohon.

“Di sana,” seru Dina sambil menunjuk salah satu dahan. Namun, setelah diamati dengan cermat, primata yang bergelantungan di dahan pohon bukanlah hewan yang mereka cari. "Bukan," kata anggota tim lainnya. “Owa Jawa tidak memiliki ekor. Ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).”

Peran Petani Kopi dan Perempuan dalam Konservasi Owa (1)/Grafis (suaramerdeka.com/dok)

Seperti namanya, owa jawa (Hylobates moloch) hanya hidup di pulau Jawa. Spesies ini dilindungi, dan dikategorikan sebagai 'terancam punah' dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Hanya beberapa ribu yang tersisa di alam liar. Owa jawa juga tercantum dalam lampiran I The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sehingga perdagangan internasional satwa ini dilarang.

Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit lagi, tim Yayasan Swara Owa berhenti di sebuah tikungan jalan. Owa sering muncul di tempat itu, menurut Arif Setiawan, ahli primata dari Yayasan Swara Owa, yang akrab disapa Wawan.

Tim bergegas keluar dari mobil dan masuk ke hutan. Tatapan mereka mengamati mahkota pohon, yang menyatu membentuk kanopi. Mata mereka kembali fokus dengan tajam, setiap kali cabang bergerak. Beberapa kali mereka terkecoh, karena dahan yang bergerak hanya tertiup angin.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB

BIN Door to Door Vaksin Warga Temanggung

Kamis, 23 September 2021 | 20:30 WIB

Guru PGSI Antusias Ikuti Program Perlindungan Sosial

Kamis, 23 September 2021 | 15:50 WIB
X