YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Disabilitas menjadi bagian dari kita dan karenanya menjadi tanggung jawab semua pihak. Harus ada perhatian dan kesadaran kepada mereka, sehingga tidak menjadi beban bagi negara.
Mereka sendiri juga tidak ingin menjadi beban. Oleh karena itu, penting untuk memberi peluang dan memberdayakan mereka, sehingga dapat membebaskan diri dari ketergantungan dan bisa mandiri.
“Keberadaan mereka yang mengalami ketidakmampuan ini, bukan kelainan, tidak boleh menjadikan mereka didiskriminasi atau perlakuan yang berbeda, karena mereka adalah bagian dari kita,” kata Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. dalam acara Lentera Kasih RRI Pro 1 Jogja 91.1 FM, bekerja sama dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DIY dengan tema Fiqih Disabilitas.
Baca Juga: Yuni Shara Beri Pendidikan Seks ke Anak Agar Berpemikiran Terbuka
"Bahkan boleh jadi suatu saat nanti kita akan menjadi seperti mereka. Terkait hal ini, kita bisa berkaca pada Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur,” tambahnya.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy ini, fiqih disabilitas berarti bagaimana kalangan disabilitas melaksanakan agamanya, cara dia bersuci, shalat dan lain sebagainya. Semua sudah diatur dalam buku Fiqih Disabilitas terbitan Lembaga Bahtsul Masail PBNU.
Lebih lanjut, anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DD) RI yang mengurus bidang agama ini, prinsip agama itu memudahkan.
Prinsip ini mestinya juga harus diwujudkan dalam penanganan atau penyediaan sarana prasarana peribadatan, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Baca Juga: Pulse Oximeter bukan untuk Mendeteksi Covid-19, Simak Pendapat Ahlinya
Apabila mereka dianggap sebagai orang yang dihitung sebagai anggota jumatan, maka fasilitas yang berhubungan dengan keragaman kemampuan jamaah harus disediakan, seperti menyediakan jalur kursi roda, toilet dan tempat wudhu yang ramah dan nyaman buat mereka.
“Dalam perspektif pembangunan, penangan terhadap mereka harus dilakukan, sebab disabilitas dan kemiskinan itu saling mempengaruhi.”
“Oleh karena itu, kewajiban negara adalah mendidik dan menjadikan mereka bisa terampil dan mampu berkarya. Ini bukan hanya kewajiban pemerintah, tapi juga adalah bagian dari kewajiban kita semua,” ujar Gus Hilmy.
Tetapi bagi pemerintah, menurut salah satu pengasuh Pesantren Krapyak ini, wajib menyiapkan segala fasilitas publik yang ramah bagi mereka.
Bagi infrastruktur, menyiapkan jenjang pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka, termasuk menyiapkan sekolah lanjutan bagi lulusan SLB, dan memberikan peluang bekerja yang sama dengan kalangan masyarakat umum kepada mereka.
Sementara bagi masyarakat, penting untuk memiliki kesadaran kolektif untuk memahami hak-hak penyandang disabilitas.
Artikel Terkait
Penyandang Disabilitas Dapat Kuota 2 Persen Rekrutmen CASN
Stafsus Presiden dan Wagub Bali Bahas Pembentukan Komisi Nasional Disabilitas