Ini Sebab Kasus Covid-19 di Rembang Melonjak, Dinkes: Warga Enggan Diisolasi, Sampai Takut Bayar Kalau Di-Swab

- Sabtu, 26 Juni 2021 | 15:48 WIB
Petugas melakukan tes swab antigen kepada pengunjung di Alun-Alun Kota Pekalongan, dalam kegiatan tes swab acak di Kota Pekalongan, Sabtu (12/6) malam. Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi) (Kuswandi)
Petugas melakukan tes swab antigen kepada pengunjung di Alun-Alun Kota Pekalongan, dalam kegiatan tes swab acak di Kota Pekalongan, Sabtu (12/6) malam. Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi) (Kuswandi)


REMBANG, suaramerdeka.com – Enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan saat merasakan gejala Covid-19, jadi salah satu pemicu lonjakan kasus Covid-19 di Kabupaten Rembang.

Keengganan warga tersebut karena takut diisolasi maupun alasan-alasan lain. Mereka justru masih beraktivitas seperti biasa, sehingga terjadi penularan.

Seperti diketahui, penambahan kasus selama enam bulan terakhir ini di Rembang, sudah melebihi jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 sepanjang 2020 lalu.

Baca Juga: Joget Langgar Prokes, Bupati Grobogan: Kades Dokoro Ndableg

“Akhir-akhir ini saya banyak mendengar informasi orang mengalami gejala, tapi nggak berani periksa ke puskesmas. Takut positif Covid dan akhirnya diisolasi. Ada pula takut bayar kalau diswab,” beber Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan DKK Rembang Sarwoko Mugiyono, seperti dikutip dari Jatengprov.go.id.

Disampaikan, selama 2020, kasus Covid-19 di Kabupaten Rembang mencapai 2.194 kasus. Angka tersebut melonjak pesat, karena antara bulan Januari sampai dengan 23 Juni 2021, sudah 2.879 kasus. Artinya, meski baru berjalan setengah tahun, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding tahun lalu

“Kita sebenarnya sempat ayem, tapi ternyata hanya sebentar ayemnya. Bulan Juni ini, terjadi lonjakan luar biasa. Kalau bicara data ya, angka berbicara. Kasus Covid-19 mengalami peningkatan di tahun 2021,” ujarnya.

Baca Juga: Resmi Melenucur, Honda City Hatchback Hadir dengan Teknologi Hybrid

Ditambahkan, data yang diumumkan tersebut merupakan kasus positif, setelah dilakukan tes swab polymerase chain reaction (PCR), dengan tes usap sample lendir dari hidung dan tenggorokan yang dinilai paling akurat.

“Data resmi kami yang dipampang di website itu sesuai hasil PCR. Kalau rapid antigen dimasukkan juga, ya jumlahnya tentu lebih banyak. Antara swab PCR dan rapid antigen, lebih akurat swab PCR. Hampir mirip, tapi hasilnya lebih cepat diketahui rapid antigen,” imbuh Sarwoko.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: jatengprov

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB

Disporapar Genjot Kemajuan Sektor Pariwisata

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:21 WIB
X