Konservasi Penyu di Kalibuntu, Buat Penangkaran Hingga Patroli Telur

- Kamis, 17 Juni 2021 | 16:40 WIB
SELESAI BERTELUR: Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu.(suaramerdeka.com/Supriyanto)
SELESAI BERTELUR: Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu.(suaramerdeka.com/Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com - Bulan Juni hingga September seperti ini merupakan musim bertelur bagi habitat penyu di pesisir selatan Kebumen. Saat cuaca dingin induk penyu mendarat ke pesisir menjauh dari bibir pantai dan menggali pasir membuat sarang untuk menyimpan telur-telurnya.

Setelah menimbun kembali telur-telurnya, sang induk penyu meninggalkan telur-telurnya kembali mengarungi Samudera Hindia. Sayangnya, seringkali telur-telur itu tidak pernah sampai menetas dan kembali ke habitat asalnya. Selain karena faktor alam dan dimakan oleh predator telur-telur itu seringkali lebih dulu ditemukan oleh pemburu telur.

Telur-telur penyu itu biasanya dijual untuk dikonsumsi karena dipercaya dapat meningkatkan vitalitas maupun beragam khasiat lainnya. Makin maraknya perburuan telur penyu di pesisir selatan beberapa tahun silam membuat para pemuda Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen gusar.

Menurut Ahmad Munajat (40) warga Desa Jogosimo pada dekade 1980-an sering melihat kemunculan penyu di sekitaran Pantai Kalibuntu muara Sungai Lukulo. Namun seiring berjalannya waktu, tahun 1990 hingga 2000 semakin jarang ditemui penyu terutama jenis Lekang (Lepidochelys olivacea) yang dahulu sering terlihat di pantai.

Baca Juga: Manajemen Kurang Terbuka, DPR: Perlu Pertimbangkan Skema Penyelamatan Garuda

"Sewaktu saya kecil, masih dapat melihat penyu-penyu di pantai. Namun, sejak dua dekade lalu, penyu-penyu itu mulai menghilang," kata Ahmad Munajat.

Munajat khawatir perburuan telur penyu pada saat musim bertelur akan berdampak makin berkurangnya populasi penyu. Maka mulai 2018, Munajat pun pelan-pelan mengajak para pemuda di desanya untuk mengambil peran untuk menyelamatkan penyu dari perburuan.

Dia pun menyampaikan kepada warga agar yang menemukan telur untuk diberikan kepada dirinya. Meskipun orang tidak menjual, dia pun memberikan ganti dengan merogoh kocek sendiri. Pada musim bertelur dia bisa sampai mengeluarkan Rp 1 juta sebagai apresiasi kepada warga.

Telur-telur itu kemudian ditempatkan di lokasi khusus semacam penangkaran sampai telur penyu menetas menjadi tukik yang siap dilepasliarkan. Dibutuhkan waktu antara 40-50 hari mulai dari penyu bertelur hingga menetas.

Baca Juga: DLH Kota Magelang Naikkan Hadiah Lomba Bank Sampah

Seiring waktu, ada sekitar 20 pemuda desa yang tertarik bergabung dalam Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo yang Ahmad Munajat didaulat sebagai ketuanya. Kiprah kelompok ini benar-benar sangat berarti bagi konservasi satwa dilindungi di pesisir selatan Kebumen.

Hingga 2020 kelompok ini sudah diakui legalitasnya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah. Bahkan BKSDA Jateng memberikan bantuan untuk pembuatan rumah penetasan telur penyu di area konservasi penyu di Kalibuntu Desa Jogosimo.

Hingga sekarang kelompok ini sudah melepasliarkan ribuan tukik ke habitat aslinya. Saat ini pub masih ada ribuan telur yang ditetaskan baik di area penangkaran maupun dipertahankan di lokasi aslinya.

Baca Juga: Hendi: Mutasi Varian Baru Covid-19 Atau Lama Sama-Sama Bahayanya

Butuh perjuangan untuk menemukan sarang telur penyu hingga merelokasinya ke tempat yang aman. Menurut Syarif Hidayat, tokoh pemuda Jogosimo yang aktif dalam KPA Jogosimo pada musim bertelur seperti saat ini mereka sering melakukan patroli telur di pesisir selatan. Patroli biasanya dilakukan pada malam hari mulai pukul 21.00 hingga dini hari.

Ketika beruntung mereka bisa melihat seekor penyu mendarat untuk bertelur. Biasanya penyu akan mencari tempat yang tidak diketahui orang sekitar 100 meter dari bibir pantai. Selain membuat sarang yang asli untuk bertelur, seekor penyu biasanya membuat sarang palsu seperti untuk mengelabuhi.

"Dalam satu sarang sedalam sekitar 50 cm, seekor penyu bisa bertelur sekitar 100-an telur. Pernah satu sarang ada 106 telur, 103, atau 96 telur juga pernah," ujar Syarif yang juga Ketua Kelompok Pengawas (Pokmaswas) yang peduli terhadap kelestarian sumberdaya perikanan.

Ilmu Titen

Meskipun tidak melihat penyu mendarat, berdasarkan ilmu titen dan kearifan lokal masyarakat setempat, para anggota KPA Jogosimo mengetahui ciri lokasi sarang tempat penyu bertelur. Hanya saja, tidak semua telur penyu dipindah ke penangkaran. Ada telur-telur yang dibiarkan di tempat aslinya jika dinilai aman dari jangkauan aktifitas warga.

Baca Juga: Aplikasi Dagangan Kenalkan Pandawa Siaga

"Meski begitu kami sering mengecek kondisinya sampai menetas," ujar Syarif Hidayat menyebutkan bahwa penetasan telur di penangkaran terlindung dari serangan predator maupun mereka yang akan mengambil telur penyu.

Syarif menyebutkan bahwa patroli di pesisir bertujuan untuk memberikan keamanan telur-telur penyu dari perburuan. Karena diakuinya meskipun kesadaran masyarakat sudah tumbuh, masih saja ada orang yang memburu telur penyu.

"Patroli ini sekaligus sebagai upaya penyelamatan telur penyu sampai menetas dan kembali ke habitat asalnya," ujarnya seraya menyebutkan operasional KPA dilakukan secara swadaya.

Baca Juga: Kadin DIY Gelar Vaksinasi untuk 50.000 Pelaku UMKM dan Usaha Lainnya

Sementara itu, telur-telur penyu yang berada penangkaran setelah menetas akan kembali dilepasliarkan. Pelepasliaran penyu menjadi atraksi wisata yang menarik para wisatawan. Tak hanya itu, area Konservasi Penyu Kalibuntu berpotensi untuk dikembangkan menjadi research center.

"Penangkaran penyu ini ke depan saya bayangkan akan menjadi research center. Para peneliti banyak yang datang ke sini, pengunjung juga banyak yang ke sini,” ujar Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S Ansgari saat mengunjungi area tersebut.

Wilayah konservasi penyu ini menjadi salah satu perhatian Bupati Kebumen Arif Sugiyanto untuk terus dilestarikan dan dijaga keberlangsunganya untuk keseimbangan alam. Untuk kesekian kalinya, Bupati Arif Sugiyanto bersama Wakil Bupati Ristawati Purwaningsih melepasliarkan puluhan tukik di wilayah Konservasi Penyu Kalibuntu.

"Kelestarian alam ini bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga anak cucu kita ke depan. Lingkungan dan alam ini harus kita jaga. Apalagi lingkungan yang masuk wilayah konservasi. Jangan sampai anak cucu kita sudah tidak bisa lagi melihat keindahan penyu di Kebumen," kata Arif Sugiyanto yang akan mengubah Kali Buntu menjadi wisata bahari berkelas internasional.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kesongo Kembali Semburkan Lumpur, Warga Berhamburan

Selasa, 28 September 2021 | 12:30 WIB

Angka Stunting Tinggi, Pemerintah Libatkan Mahasiswa

Senin, 27 September 2021 | 19:18 WIB

Hujan Deras, Rumah Rusak Diterjang Longsor

Senin, 27 September 2021 | 15:40 WIB

2.302 Peserta Ikuti SKD CASN Pemkot Magelang

Senin, 27 September 2021 | 15:12 WIB
X