Konservasi Penyu di Kalibuntu, Buat Penangkaran Hingga Patroli Telur

- Kamis, 17 Juni 2021 | 16:40 WIB
SELESAI BERTELUR: Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu.(suaramerdeka.com/Supriyanto)
SELESAI BERTELUR: Anggota Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen mendapati seekor penyu yang selesai bertelur di Pantai Kalibuntu.(suaramerdeka.com/Supriyanto)

Baca Juga: DLH Kota Magelang Naikkan Hadiah Lomba Bank Sampah

Seiring waktu, ada sekitar 20 pemuda desa yang tertarik bergabung dalam Kelompok Pelestari Alam (KPA) Jogosimo yang Ahmad Munajat didaulat sebagai ketuanya. Kiprah kelompok ini benar-benar sangat berarti bagi konservasi satwa dilindungi di pesisir selatan Kebumen.

Hingga 2020 kelompok ini sudah diakui legalitasnya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah. Bahkan BKSDA Jateng memberikan bantuan untuk pembuatan rumah penetasan telur penyu di area konservasi penyu di Kalibuntu Desa Jogosimo.

Hingga sekarang kelompok ini sudah melepasliarkan ribuan tukik ke habitat aslinya. Saat ini pub masih ada ribuan telur yang ditetaskan baik di area penangkaran maupun dipertahankan di lokasi aslinya.

Baca Juga: Hendi: Mutasi Varian Baru Covid-19 Atau Lama Sama-Sama Bahayanya

Butuh perjuangan untuk menemukan sarang telur penyu hingga merelokasinya ke tempat yang aman. Menurut Syarif Hidayat, tokoh pemuda Jogosimo yang aktif dalam KPA Jogosimo pada musim bertelur seperti saat ini mereka sering melakukan patroli telur di pesisir selatan. Patroli biasanya dilakukan pada malam hari mulai pukul 21.00 hingga dini hari.

Ketika beruntung mereka bisa melihat seekor penyu mendarat untuk bertelur. Biasanya penyu akan mencari tempat yang tidak diketahui orang sekitar 100 meter dari bibir pantai. Selain membuat sarang yang asli untuk bertelur, seekor penyu biasanya membuat sarang palsu seperti untuk mengelabuhi.

"Dalam satu sarang sedalam sekitar 50 cm, seekor penyu bisa bertelur sekitar 100-an telur. Pernah satu sarang ada 106 telur, 103, atau 96 telur juga pernah," ujar Syarif yang juga Ketua Kelompok Pengawas (Pokmaswas) yang peduli terhadap kelestarian sumberdaya perikanan.

Ilmu Titen

Meskipun tidak melihat penyu mendarat, berdasarkan ilmu titen dan kearifan lokal masyarakat setempat, para anggota KPA Jogosimo mengetahui ciri lokasi sarang tempat penyu bertelur. Hanya saja, tidak semua telur penyu dipindah ke penangkaran. Ada telur-telur yang dibiarkan di tempat aslinya jika dinilai aman dari jangkauan aktifitas warga.

Baca Juga: Aplikasi Dagangan Kenalkan Pandawa Siaga

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sapi Milik Peternak Miskin Dibantu Pakan Konsentrat

Minggu, 26 September 2021 | 20:04 WIB

Klinik Bima Husada, Gratis Bagi Warga Tak Mampu

Minggu, 26 September 2021 | 19:04 WIB

Prospek Budi Daya Tanaman Porang di Magelang Terbuka

Minggu, 26 September 2021 | 13:26 WIB

2.358 Peserta Tes Berebut 100 Kuota CPNS Pemkab Kebumen

Sabtu, 25 September 2021 | 15:51 WIB

Belasan Kelompok Tani di Sleman Dibantu Alsintan

Jumat, 24 September 2021 | 14:49 WIB
X