400 Sampel Klaster Lapas Narkotika Yogyakarta Diperiksa 3 Laboratorium

- Rabu, 16 Juni 2021 | 14:48 WIB
Kadivpas Kanwil Jawa Tengah, Syafar Puji Rochmadi didampingi Kalapas Terbuka Kendal melakukan peninjauan kegiatan di Lapas Terbuka Kendal. (suaramerdeka.com/Aji)
Kadivpas Kanwil Jawa Tengah, Syafar Puji Rochmadi didampingi Kalapas Terbuka Kendal melakukan peninjauan kegiatan di Lapas Terbuka Kendal. (suaramerdeka.com/Aji)

 

SLEMAN, suaramerdeka.com - Temuan klaster Covid-19 di kompleks Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta untuk sementara tidak menunjukkan perkembangan. Swab massal sudah rampung dilakukan, dan sejauh ini tidak ada penambahan kasus.

"Sampai dengan kemarin sore, jumlahnya masih tetap 275 kasus positif. Hasil pemeriksaan swab untuk penghuni sel blok A dan C kemungkinan keluar hari ini tapi tinggal sedikit, sekitar 40an," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo saat dikonfirmasi, Rabu (16/6).

Untuk mempercepat hasil pemeriksaan swab massal terhadap warga binaan dan petugas Lapas Narkotika, pihaknya melibatkan tiga laboratorium yakni Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTLKPP), RSUP Sardjito, dan Balai Laboratorium dan Kesehatan (BLKK) DIY.

Baca Juga: Daftar Enam Provinsi dengan Lonjakan Kasus Tertinggi dan Jumlahnya

"Kita libatkan tiga laboratorium karena jumlah sampelnya banyak, sampai 400. Awalnya 350 sampel tapi kemudian ada tambahan di hari-hari berikutnya," jelasnya.

Total jumlah warga binaan di Lapas Narkotika Yogyakarta ada 427 orang. Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 262 napi dinyatakan positif terpapar Covid-19 ditambah 13 petugas lapas.

Warga binaan yang positif sudah diisolasi di dalam kompleks lapas, sedangkan yang kondisinya sehat dikumpulkan di kompleks karantina. Belajar dari kasus itu, pihaknya mengingatkan kepada pengelola lapas agar melakukan antisipasi terutama terkait penegakan protokol kesehatan.

Baca Juga: Kapolri Sebut Kepercayaan dan Kepuasan Publik ke Lembaganya Meningkat

"Soal vaksinasi bagi warga binaan sedang dibahas di tingkat provinsi. Masih kita pertimbangkan karena warga binaan tidak masuk kriteria prioritas vaksinasi tahap dua," ucap Joko.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham DIY Gusti Ayu Putu Suwardani mengaku sangat menyayangkan kejadian ini.

"Kalau patuh protokol kesehatan, kasus Covid-19 bisa kita kendalikan. Tapi barangkali ada petugas yang abai prokes ketika akan masuk ke kantor, tentu hal ini sangat disayangkan," katanya.

Baca Juga: Operasi Bibir Sumbing Pusdokkes Polri Pecahkan Rekor Muri

Dia mengaku selama ini sudah cukup ketat memberlakukan aturan penerimaan tahanan baru. Sebelum dibaurkan, tahanan yang baru masuk ditempatkan di ruang isolasi selama 14 hari.

Agenda besuk juga hanya dilakukan secara daring. Pengetatan diterapkan pula dalam hal logistik. Sejak awal masa pandemi, pihak lapas sudah tidak lagi menerima makanan dari luar. Alternatifnya dengan memaksimalkan makanan yang diolah dari dalam lingkungan lapas.

"Seluruh lapas di DIY sudah diinstruksikan untuk memperketat prokes. Boks sterilisasi diaktifkan lagi," tandasnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemalang Raih Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:11 WIB

Jelajah Wisata Jawa Tengah Lewat Mubeng Jateng

Jumat, 15 Oktober 2021 | 20:16 WIB

Potensi Zakat Penghasilan ASN di Kebumen Rp 24 Miliar

Kamis, 14 Oktober 2021 | 20:17 WIB

202 Pekerja di Sleman di-PHK Terdampak Pandemi

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:25 WIB
X